3 Modus Propaganda Disintegrasi yang Membonceng Film Pesta Babi
3 Modus Propaganda Disintegrasi yang Membonceng Film Pesta Babi

3 Modus Propaganda Disintegrasi yang Membonceng Film Pesta Babi

Frankenstein45.Com – 09 Juni 2026 | Baru-baru ini muncul indikasi kuat bahwa film berjudul “Pesta Babi” dijadikan sarana untuk menyebarkan propaganda yang berupaya memecah persatuan Indonesia, khususnya di Papua. Berbagai pihak mengamati pola-pola penyebaran pesan yang secara halus menanamkan narasi disintegrasi.

Berikut tiga modus utama yang teridentifikasi:

  1. Penggunaan simbolisme visual yang memicu sentimen separatis. Adegan‑adegan dalam film menampilkan simbol-simbol yang secara kontekstual dikaitkan dengan identitas Papua, seperti bendera atau pakaian tradisional, namun dipadukan dengan narasi negatif yang menimbulkan rasa “lain”.
  2. Distribusi melalui kanal media sosial dengan judul provokatif. Potongan video dan klip diposting di platform seperti YouTube, TikTok, dan Instagram dengan judul yang menyinggung isu‑isu sensitif, misalnya “Papua di Bawah Kendali”. Algoritma mempercepat penyebaran karena interaksi tinggi.
  3. Pengaitan film dengan peristiwa politik aktual. Narasi dalam film dihubungkan secara paksa dengan konflik terbaru di Papua, sehingga penonton dapat menyimpulkan bahwa film tersebut merupakan “bukti” adanya upaya pemisahan.

Analisis pakar media menunjukkan bahwa modus-modus tersebut bukan kebetulan, melainkan bagian dari strategi yang lebih luas untuk memecah belah. Mereka menekankan pentingnya edukasi literasi digital agar masyarakat dapat mengidentifikasi konten manipulatif.

Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika telah menyatakan siap menindaklanjuti penyebaran konten yang melanggar Undang‑Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Sementara itu, organisasi masyarakat sipil menyerukan dialog terbuka dan pemeriksaan faktual terhadap setiap klaim yang beredar.

Kasus ini menegaskan kembali bahwa film, sekalipun bersifat hiburan, dapat dijadikan alat politik bila dimanipulasi. Pengawasan yang ketat serta kesadaran kritis publik menjadi kunci dalam menjaga persatuan negara.