Drama Handshake di PSG: Safonov dan Zabarnyi Memicu Kontroversi Menjelang Final Liga Champions
Drama Handshake di PSG: Safonov dan Zabarnyi Memicu Kontroversi Menjelang Final Liga Champions

Drama Handshake di PSG: Safonov dan Zabarnyi Memicu Kontroversi Menjelang Final Liga Champions

Frankenstein45.Com – 24 Mei 2026 | Paris Saint-Germain (PSG) tengah mengintensifkan persiapan menjelang laga final Liga Champions 2025-2026 melawan Arsenal yang akan digelar di Puskas Arena, Budapest pada 30 Mei 2026. Di tengah sorotan media terhadap strategi taktik Luis Enrique, sebuah insiden kecil namun signifikan muncul dalam uji coba internal tim: kiper asal Rusia Matvey Safonov menolak berjabat tangan dengan bek tengah asal Ukraina Ilya Zabarnyi sebelum pertandingan dimulai.

Insiden Handshake yang Mengundang Perhatian

Video yang beredar di media sosial memperlihatkan Safonov menghindari salam jabat tangan ketika timnya diminta berinteraksi dengan rekan satu skuad dari sisi lain lapangan. Beberapa rekan pemain lain melontarkan jabat tangan, namun Safonov tetap membiarkan tangan kosong ketika berhadapan dengan Zabarnyi. Momen tersebut segera menjadi perbincangan publik, mengingat latar belakang kedua pemain yang berasal dari negara yang sedang berseteru, Rusia dan Ukraina.

Latarnya: Konflik Rusia-Ukraina dan Dampaknya di Lapangan

Perang yang berlangsung sejak 2022 antara Rusia dan Ukraina memberi konteks politik yang kuat pada insiden ini. Zabarnyi, yang bergabung dengan PSG pada awal musim panas setelah meninggalkan Bournemouth, merupakan pemain asal Kyiv. Sementara Safonov, lahir di Stavropol, Rusia, menempati posisi kiper utama sejak penyesuaian skuad musim ini. Meskipun keduanya telah berbagi lebih dari 1.000 menit bermain bersama dalam 13 pertandingan musim ini, termasuk satu penampilan di Liga Champions, ketegangan geopolitik tampak memengaruhi interaksi pribadi mereka di luar lapangan.

Bagaimana PSG Menanggapi Insiden Ini?

Manajer Luis Enrique belum memberikan komentar resmi mengenai penolakan handshake tersebut. Klub tampaknya memilih untuk meminimalisir sorotan politik dan tetap fokus pada persiapan taktik. Dalam sesi latihan, pemain lain tetap melaksanakan ritual standar, termasuk berjabat tangan, high‑five, dan sesi foto tim. Hal ini menunjukkan bahwa insiden tersebut dipandang sebagai kasus individual, bukan refleksi dari keretakan tim secara keseluruhan.

Strategi Kiper PSG Menjelang Final

Selain insiden interpersonal, PSG juga menghadapi dilema dalam menyiapkan lini belakang mereka. Setelah penampilan impresif Mile Svilar, kiper AS Roma yang masuk dalam daftar incaran klub, PSG masih menilai pilihan antara menambah opsi seperti Svilar, Gregor Kobel, atau Anotoliy Trubin. Sementara itu, performa Safonov selama musim ini telah meningkat, menjadikannya kandidat utama di bawah mistar gawang. Penguatan posisi kiper menjadi prioritas karena PSG berusaha mempertahankan gelar juara Liga Champions yang diraih pada musim sebelumnya.

Faktor-Faktor Kunci Persiapan PSG

  • Penyesuaian taktik Luis Enrique setelah mengalahkan Bayern Munich di semifinal.
  • Pengelolaan kebugaran pemain kunci seperti Ousmane Dembélé dan Achraf Hakimi yang masih dalam proses pemulihan.
  • Pengawasan ketat terhadap dinamika internal tim, termasuk potensi konflik budaya atau politik.
  • Evaluasi opsi transfer kiper untuk menambah kedalaman skuad sebelum final.

Pengaruh Insiden Terhadap Moral Tim

Para pengamat sepak bola menilai bahwa insiden handshake tidak akan mengganggu konsistensi performa tim di lapangan. PSG telah menunjukkan kemampuan untuk mengatasi ketegangan internal selama kompetisi sebelumnya, dan pengalaman pemain internasional yang beragam dapat menjadi aset dalam menghadapi tekanan akhir musim. Namun, klub tetap diharapkan mengelola situasi dengan sensitif untuk mencegah eskalasi yang dapat memengaruhi moral pemain menjelang pertandingan penting.

Dengan final yang hanya tinggal beberapa hari, PSG harus menyeimbangkan antara persiapan taktis, kebugaran pemain, dan manajemen hubungan antaranggota tim. Insiden antara Safonov dan Zabarnyi menjadi contoh kecil bagaimana faktor luar lapangan dapat muncul di tengah sorotan global. Pada akhirnya, hasil akhir akan ditentukan oleh kualitas permainan di Budapest, bukan oleh gestur tangan yang terlewatkan di ruang ganti.