Frankenstein45.Com – 24 Mei 2026 | Bandung, 24 Mei 2026 – Persib Bandung menutup musim BRI Super League 2025/2026 dengan hasil imbang 0‑0 melawan Persijap Jepara di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA). Kemenangan tak berbalut gol tersebut tetap mengamankan gelar juara ketiga beruntun bagi Maung Bandung. Di balik keberhasilan tersebut, pelatih asal Kroasia, Bojan Hodak, menyoroti peranan keberuntungan, pertahanan yang solid, serta dinamika perubahan skuad yang signifikan.
Keberuntungan sebagai Faktor Penentu
Sesaat setelah peluit akhir, Hodak mengakui bahwa “banyak keberuntungan” berperan dalam perjalanan Persib musim ini. Menurutnya, tingkat kompetisi meningkat tajam; setiap tim kini diperkuat dengan tujuh pemain asing serta talenta lokal yang lebih merata. Kondisi ini menjadikan perolehan poin yang sama dengan musim sebelumnya tidak cukup untuk menempati posisi puncak. Hodak menambahkan, “Jika kami hanya mengandalkan poin seperti musim lalu, kami mungkin berada di peringkat empat atau lima.”
Ia juga menyinggung Borneo FC, yang mengumpulkan 79 poin tetapi gagal menjadi juara. “Mereka memiliki tim bagus namun tidak memiliki keberuntungan,” ujar Hodak, menekankan bahwa faktor kebetulan kadang menentukan hasil akhir dalam kompetisi yang begitu ketat.
Pertahanan Sebagai Kunci Utama
Statistik pertahanan Persib musim ini menjadi bukti nyata. Gawang tim hanya kebobolan 22 gol, menjadikannya pertahanan paling ketat di liga. “Saya pikir pertahanan memberikan kami gelar juara musim ini,” kata Hodak dalam konferensi pers. Ia menjelaskan bahwa meskipun tim menciptakan peluang, ketajaman menyerang tidak selalu maksimal; oleh karena itu, fondasi kokoh di lini belakang menjadi penopang konsistensi performa dari awal hingga akhir musim.
Perubahan Besar dalam Skuad
Musim 2025/2026 menyaksikan masuknya sekitar 25 pemain baru ke dalam rombongan Persib. Hodak menilai bahwa perubahan drastis tersebut menambah beban adaptasi dan meningkatkan tingkat kesulitan mempertahankan gelar. “Di dua musim sebelumnya skuad inti relatif tetap, namun tahun ini kami harus menyusun taktik baru dengan banyak wajah baru,” ungkapnya.
Langkah ini terbukti berhasil, karena integrasi pemain baru berhasil menghasilkan sinergi yang cukup untuk menembus puncak klasemen meski persaingan semakin merata.
Julukan dan Cinta Bobotoh
Bobotoh Persib memberikan berbagai julukan kepada Bojan Hodak, termasuk “masterclass” dan sebutan lucu “aki‑aki gede wadul”. Julukan tersebut mencerminkan rasa hormat sekaligus keakraban antara pelatih dan pendukung. Salah satu suporter menjelaskan, “Ia selalu mengelak dari pertanyaan rumor transfer, namun hasilnya kami tetap mendapat pemain berkualitas.”
Penghargaan dan Rekor
Keberhasilan hattrick juara ini membuat Hodak mencatat sejarah sebagai pelatih asing pertama yang membawa Persib meraih tiga gelar liga beruntun. Ia pun dinobatkan sebagai “The Best Coach” BRI Super League 2025/2026, menegaskan peranannya dalam mengubah tim yang sempat berada di zona degradasi menjadi tim dominan.
Setelah memastikan trofi, Hodak mengaku pertama kali yang terlintas dalam benaknya adalah keinginan untuk beristirahat. “Tidak akan ada yang mengingat pertandingan 0‑0 ini, yang diingat hanyalah momen juara,” tuturnya, menegaskan fokus pada pencapaian kolektif.
Dengan catatan 79 poin dan keunggulan head‑to‑head atas Borneo FC, Persib menegaskan dominasinya di era Liga 1 modern. Keberhasilan ini tidak lepas dari kombinasi faktor keberuntungan, pertahanan yang disiplin, serta kebijakan pergantian pemain yang berhasil memanfaatkan talenta baru secara optimal.
Seiring musim berakhir, harapan bobotoh kini beralih pada persiapan musim berikutnya. Namun, catatan hattrick juara yang dipimpin Bojan Hodak akan menjadi referensi utama bagi tim lain yang ingin menapaki jejak kesuksesan serupa.




