Kembaran Hijau Gas Alam Siap Jadi Pengganti LPG di Indonesia
Kembaran Hijau Gas Alam Siap Jadi Pengganti LPG di Indonesia

Kembaran Hijau Gas Alam Siap Jadi Pengganti LPG di Indonesia

Frankenstein45.Com – 28 Mei 2026 | BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) bersama mitra industri PTPN IV PalmCo dan Sub Holding PTPN III (Persero) tengah menyelesaikan studi pengembangan Bio-Compressed Biomethane Gas (Bio‑CBG), sebuah gas biomethana yang diproduksi dari limbah sawit. Teknologi ini diharapkan menjadi alternatif bersih bagi LPG (Liquefied Petroleum Gas) yang selama ini menjadi sumber energi rumah tangga utama.

Bio‑CBG merupakan campuran metana yang dipadatkan dalam bentuk silinder, mirip dengan tabung LPG, namun berasal 100% dari bahan organik. Proses produksi dimulai dari pengumpulan limbah tandan kosong, inti buah, dan serabut kelapa sawit yang kemudian difermentasi menjadi biogas. Biogas tersebut selanjutnya diproses melalui teknologi kompresi untuk menghasilkan biomethana bertekanan tinggi yang dapat disimpan dan didistribusikan layaknya LPG.

Berikut beberapa keunggulan Bio‑CBG dibandingkan LPG konvensional:

  • Ramah lingkungan: Emisi CO₂ bersih lebih rendah karena biomethana merupakan bagian dari siklus karbon alami.
  • Sumber energi lokal: Memanfaatkan limbah pertanian dalam negeri mengurangi ketergantungan pada impor minyak bumi.
  • Biaya operasional: Potensi biaya produksi yang kompetitif karena bahan baku melimpah dan biaya transportasi yang lebih rendah.
  • Keamanan: Tekanan penyimpanan yang serupa dengan LPG, sehingga dapat menggunakan infrastruktur distribusi yang sudah ada.

Tim riset BRIN menargetkan fase uji coba lapangan pada kuartal pertama 2025, dengan rencana skala produksi komersial pada akhir 2026. Pemerintah diperkirakan akan memberikan dukungan regulasi dan insentif fiskal untuk mempercepat adopsi Bio‑CBG, sejalan dengan agenda transisi energi bersih Indonesia.

Selain manfaat lingkungan, pengembangan Bio‑CBG diharapkan dapat membuka peluang ekonomi baru bagi petani dan pekerja di sektor kelapa sawit. Dengan meningkatkan nilai tambah limbah pertanian, proyek ini dapat memperkuat rantai pasok domestik serta meningkatkan kesejahteraan petani.

Meski prospek menjanjikan, tantangan teknis seperti efisiensi konversi limbah menjadi metana, standar kualitas biomethana, dan kebutuhan investasi awal masih menjadi fokus utama. Kolaborasi antara lembaga riset, pemerintah, dan sektor swasta dipandang kunci untuk mengatasi hambatan tersebut dan mewujudkan Bio‑CBG sebagai pengganti LPG yang andal.