Frankenstein45.Com – 07 Juni 2026 | Jakarta, 6 Juni 2026 – Konsultan dan perencana keuangan ternama, Elvi Diana, menuntut Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta pemerintah untuk memberikan penjelasan yang lebih terbuka mengenai penyebab penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa minggu terakhir. Menurutnya, ketidakjelasan informasi dapat memperparah kepanikan investor dan mengganggu stabilitas pasar modal.
Sejak awal Mei 2026, IHSG mencatat penurunan sekitar 4,2 persen, turun dari level 7.150 poin menjadi di bawah 6.850 poin. Penurunan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:
- Kenaikan suku bunga global yang menekan aliran modal masuk ke pasar emerging markets.
- Fluktuasi harga komoditas utama Indonesia, terutama minyak kelapa sawit dan batu bara.
- Kekhawatiran atas kebijakan fiskal pemerintah terkait defisit anggaran.
- Sentimen negatif akibat data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan.
Elvi menekankan bahwa OJK perlu menyajikan data dan analisis secara berkala, termasuk laporan mingguan mengenai likuiditas pasar, arus masuk/keluar dana asing, serta penilaian risiko makroekonomi. “Investor berhak mendapatkan informasi yang jelas dan tepat waktu. Tanpa transparansi, keputusan investasi menjadi spekulatif dan berpotensi menambah volatilitas,” ujarnya dalam pernyataan tertulis kepada media.
Selain meminta transparansi, konsultan tersebut juga mengusulkan beberapa langkah konkret, antara lain:
- Penyusunan portal data terbuka yang dapat diakses publik tanpa biaya.
- Penyampaian briefing reguler kepada pelaku pasar, termasuk broker, manajer aset, dan lembaga keuangan.
- Penerbitan panduan risiko yang menjelaskan skenario-skenario pasar yang mungkin terjadi.
Pihak OJK belum memberikan respons resmi hingga saat artikel ini ditulis. Namun, dalam pernyataan singkatnya, OJK menyatakan komitmen untuk terus memantau kondisi pasar dan memastikan perlindungan investor.
Pengamat pasar menilai bahwa langkah Elvi Diana dapat menjadi pendorong bagi regulator untuk meningkatkan kualitas komunikasi publik. “Jika OJK dapat menyediakan data yang lebih transparan, kepercayaan investor akan pulih lebih cepat, dan pasar modal Indonesia dapat kembali menarik bagi investasi asing,” kata Budi Santoso, analis senior di salah satu perusahaan sekuritas terkemuka.




