Frankenstein45.Com – 08 Juni 2026 | Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko IPK), Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen menurunkan biaya logistik nasional secara signifikan dalam jangka menengah. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), biaya logistik masih berada di atas 15% dari total nilai produksi, jauh lebih tinggi dibandingkan negara-negara tetangga.
AHY memaparkan tiga pilar utama yang akan dijalankan untuk mencapai target penurunan biaya logistik hingga 13% pada tahun 2028:
- Peningkatan infrastruktur transportasi: pembangunan jalan tol, pelabuhan, dan bandara kelas dunia yang mengurangi waktu tempuh dan biaya bahan bakar.
- Digitalisasi rantai pasok: penerapan sistem e‑logistik, platform data terintegrasi, serta penggunaan teknologi Internet of Things (IoT) untuk memantau pergerakan barang secara real‑time.
- Reformasi regulasi dan tarif: penyederhanaan prosedur bea cukai, peninjauan kembali tarif pengapalan, serta pemberian insentif bagi operator logistik yang mengadopsi standar efisiensi.
Berikut perkiraan tahapan penurunan biaya logistik yang direncanakan pemerintah:
| Tahun | Target Persentase Biaya Logistik |
|---|---|
| 2024 | 14,5 % |
| 2026 | 13,8 % |
| 2028 | 13,0 % |
Pemerintah juga menyiapkan anggaran khusus sebesar Rp 45 triliun untuk proyek infrastruktur logistik selama lima tahun ke depan, mencakup pembangunan 12 pelabuhan baru, 8 jalur kereta barang, serta revitalisasi jaringan jalan provinsi.
Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan biaya logistik dapat turun, harga barang konsumen menjadi lebih terjangkau, serta daya saing industri nasional meningkat di pasar global.




