Frankenstein45.Com – 08 Juni 2026 | Pada awal Juni 2026, empat perusahaan bahan bakar minyak (BBM) besar di Indonesia—Pertamina, Shell, Vivo Energy, dan BP—menetapkan penyesuaian harga untuk beberapa produk non‑subsidi. Penyesuaian ini dipengaruhi oleh fluktuasi harga minyak dunia, nilai tukar rupiah, serta kebijakan fiskal pemerintah.
Berikut rangkuman perbandingan harga rata‑rata per liter untuk produk utama yang tidak mendapat subsidi pada periode tersebut:
| Produk | Pertamina | Shell | Vivo Energy | BP |
|---|---|---|---|---|
| Premium | Rp14.500 | Rp14.800 | Rp14.750 | Rp14.600 |
| Pertamax | Rp15.300 | Rp15.600 | Rp15.550 | Rp15.400 |
| Solar | Rp11.200 | Rp11.500 | Rp11.450 | Rp11.300 |
Secara umum, Shell menempatkan harga teratas pada tiga produk utama, sementara Pertamina menawarkan harga terendah pada Premium dan Solar. Vivo Energy dan BP berada di tengah‑tengah dengan selisih margin yang relatif kecil.
Faktor‑faktor yang memengaruhi perbedaan harga meliputi:
- Ketersediaan pasokan: Pertamina sebagai pemain domestik memiliki jaringan distribusi yang lebih luas, memungkinkan penyesuaian harga yang lebih fleksibel.
- Strategi pasar: Perusahaan multinasional seperti Shell dan BP cenderung menyesuaikan harga mengikuti standar regional untuk menjaga profitabilitas.
- Kebijakan pajak dan subsidi: Pemerintah menetapkan tarif pajak yang seragam, namun implementasi subsidi berbeda‑beda, sehingga memengaruhi harga akhir di pompa.
Pengguna kendaraan diharapkan memperhatikan perbedaan harga ini ketika memilih stasiun pengisian, terutama pada daerah dengan persaingan ketat antara jaringan BBM. Pilihan yang cermat dapat menghemat biaya operasional harian.




