Frankenstein45.Com – 25 Mei 2026 | Petani di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, menyatakan penolakan keras atas rencana pembangunan Batalion Teritorial militer di wilayah mereka. Rencana tersebut menimbulkan kekhawatiran terkait kehilangan lahan pertanian, potensi gangguan lingkungan, serta dampak sosial‑ekonomi bagi komunitas setempat.
Kelompok tani yang dipimpin oleh Ketua Lembaga Pertanian Temanggung, Budi Santoso, menggelar aksi protes pada tanggal 20 April 2024. Aksi tersebut melibatkan ribuan petani yang membawa spanduk dan papan bertuliskan “Jaga Tanah Kita” serta “Tidak untuk Militer”. Para petani menuntut agar pemerintah daerah dan TNI menghentikan pembangunan fasilitas militer yang direncanakan di lahan seluas 25 hektar dekat Desa Ngablak.
- Menolak pengalihan lahan pertanian menjadi area militer.
- Menuntut transparansi proses perencanaan dan konsultasi publik.
- Meminta alternatif lokasi yang tidak mengganggu lahan pertanian.
Menanggapi protes tersebut, Markas Besar TNI mengeluarkan pernyataan resmi pada 22 April 2024. Pihak TNI menyatakan akan meninjau kembali keberatan warga dan berjanji untuk melakukan dialog dengan tokoh masyarakat serta perwakilan petani. Dalam pernyataan itu, TNI menegaskan bahwa pembangunan Batalion Teritorial bertujuan memperkuat pertahanan wilayah, namun tidak mengabaikan hak-hak masyarakat lokal.
Berikut rangkuman kronologi singkat terkait isu ini:
| Tanggal | Peristiwa |
|---|---|
| 15 April 2024 | Pemerintah daerah mengumumkan rencana pembangunan Batalion Teritorial di Temanggung. |
| 20 April 2024 | Petani Temanggung menggelar aksi protes besar‑besaran. |
| 22 April 2024 | Markas Besar TNI menyatakan akan menindaklanjuti keberatan warga. |
| 30 April 2024 | Rapat koordinasi antara perwakilan TNI, pemerintah daerah, dan tokoh petani dijadwalkan. |
Para petani berharap pertemuan selanjutnya dapat menghasilkan kesepakatan yang melindungi lahan pertanian serta mengakomodasi kebutuhan pertahanan negara. Sementara itu, aktivis lingkungan menyoroti potensi dampak ekosistem, mengingat daerah tersebut merupakan kawasan hutan lindung yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan air dan keanekaragaman hayati.
Masalah ini kini menjadi sorotan publik, mendorong diskusi lebih luas tentang keseimbangan antara pembangunan militer dan hak atas tanah pertanian. Keputusan akhir masih menunggu hasil dialog antara semua pihak yang terlibat.




