Frankenstein45.Com – 24 Mei 2026 | Prajurit Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) Yonif 511/DY baru-baru ini menyelesaikan proyek rehabilitasi Gereja Protestan Indonesia (GPI) Kogoyaluk yang terletak di Kabupaten Lanny Jaya, Papua Pegunungan. Upaya tersebut bertujuan memperbaiki fasilitas ibadah sekaligus meneguhkan semangat toleransi antarumat beragama di daerah yang masih rawan konflik.
Proses perbaikan dimulai pada awal bulan ini dan melibatkan lebih dari dua puluh personel militer serta tenaga ahli sipil. Pekerjaan yang dilakukan meliputi perbaikan atap, pengecatan dinding, pemasangan lampu penerangan, serta perbaikan sistem sanitasi dan akses air bersih.
- Penggantian atap yang bocor dengan material anti‑karat.
- Pengecatan ulang seluruh interior dan eksterior dengan warna netral.
- Instalasi lampu LED hemat energi untuk pencahayaan malam hari.
- Peningkatan fasilitas toilet dan penyediaan sumber air bersih.
“Kami ingin memastikan bahwa setiap warga, tanpa memandang agama, dapat beribadah dengan aman dan nyaman. Gereja Kogoyaluk menjadi simbol kebersamaan, dan perbaikan ini diharapkan dapat memperkuat rasa saling menghormati antara komunitas Kristen dan masyarakat sekitar,” ujar Kapten Rizal.
Warga setempat menyambut baik inisiatif tersebut. Kepala Desa Kogoyaluk, Bapak Jefri Lamo, menyampaikan rasa terima kasih kepada prajurit yang telah membantu memperbaiki tempat ibadah. “Setelah gereja kami direnovasi, kami merasa lebih dihargai dan yakin bahwa pemerintah serta TNI peduli pada kebutuhan rohani kami,” kata Jefri.
Langkah rehabilitasi ini juga sejalan dengan program nasional untuk meningkatkan toleransi beragama di Indonesia, khususnya di wilayah Papua yang memiliki keragaman etnis dan kepercayaan yang tinggi. Data Kementerian Agama menunjukkan bahwa selama tiga tahun terakhir, konflik berbasis agama di Papua menurun sebesar 12 persen, meski tantangan masih tetap ada.
Selain perbaikan fisik, prajurit Satgas Pamtas juga mengadakan dialog lintas agama bersama tokoh agama Katolik, Protestan, dan adat setempat. Kegiatan tersebut mencakup ceramah tentang pentingnya hidup berdampingan secara damai serta pelatihan mediasi bagi para pemuka agama.
Rehabilitasi Gereja Kogoyaluk menjadi contoh konkret bagaimana militer dapat berperan aktif dalam membangun perdamaian sosial. Diharapkan inisiatif serupa dapat direplikasi di wilayah lain yang membutuhkan dukungan serupa, sehingga toleransi beragama semakin kuat di seluruh Indonesia.




