Frankenstein45.Com – 24 Mei 2026 | Rupiah Indonesia kembali mengalami tekanan signifikan sejak Presiden Prabowo Subianto menjabat. Nilai tukar mata uang ini menurun tajam terhadap dolar Amerika Serikat, memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar dan masyarakat.
Berbagai faktor menggerakkan pelemahan tersebut, antara lain:
- Peningkatan defisit fiskal akibat belanja pemerintah yang tinggi.
- Arus keluar modal asing yang dipicu oleh persepsi risiko politik.
- Penurunan cadangan devisa yang mengurangi daya dukung nilai tukar.
- Inflasi yang terus berada di atas target Bank Indonesia.
Sebagai respons, beberapa pakar ekonomi mengangkat kembali kebijakan yang pernah diprakarsai oleh Presiden Soeharto Habibie pada akhir 1990-an. Strategi Habibie menekankan pada stabilitas nilai tukar melalui kombinasi kebijakan moneter yang ketat dan pengelolaan cadangan devisa secara aktif.
Elemen utama strategi tersebut meliputi:
- Peningkatan suku bunga acuan untuk menahan aliran keluar modal.
- Pembelian dolar secara periodik oleh Bank Indonesia guna menstabilkan pasar.
- Pengendalian inflasi melalui kebijakan fiskal yang disiplin.
Berikut ini data pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dalam enam bulan terakhir:
| Bulan | Rupiah per USD |
|---|---|
| Januari 2024 | 15.200 |
| Februari 2024 | 15.350 |
| Maret 2024 | 15.480 |
| April 2024 | 15.620 |
| Mei 2024 | 15.790 |
| Juni 2024 | 15.950 |
Jika strategi Habibie diterapkan secara konsisten, ada kemungkinan nilai tukar dapat stabil atau bahkan menguat kembali. Namun, keberhasilan kebijakan tersebut bergantung pada koordinasi antara kebijakan moneter, fiskal, serta kepercayaan investor terhadap arah ekonomi Indonesia ke depan.
Pengawasan ketat terhadap defisit anggaran, peningkatan transparansi kebijakan, dan penegakan disiplin fiskal menjadi prasyarat penting untuk mendukung upaya stabilisasi nilai tukar. Tanpa langkah-langkah tersebut, tekanan pada rupiah dapat terus berlanjut meski ada intervensi pasar.




