Survei: Separuh Warga AS Tak Lagi Percaya pada American Dream
Survei: Separuh Warga AS Tak Lagi Percaya pada American Dream

Survei: Separuh Warga AS Tak Lagi Percaya pada American Dream

Frankenstein45.Com – 08 Juni 2026 | Baru-baru ini sebuah survei yang dilakukan oleh The Associated Press bekerja sama dengan NORC Center for Public Affairs Research mengungkapkan perubahan signifikan dalam persepsi warga Amerika terhadap “American Dream“.

Survei tersebut melibatkan sekitar 2.000 responden dewasa dari berbagai wilayah, usia, dan latar belakang ekonomi. Hasil utama menunjukkan bahwa 51 % warga Amerika tidak lagi percaya bahwa impian memiliki rumah, pekerjaan yang stabil, dan kemakmuran dapat dicapai melalui kerja keras.

  • 52 % responden menilai kesempatan ekonomi menurun dalam lima tahun terakhir.
  • 48 % percaya bahwa kesenjangan pendapatan semakin melebar.
  • 35 % menganggap sistem pendidikan tidak lagi memberikan jalur mobilitas sosial.

Beberapa faktor yang disebutkan oleh responden meliputi inflasi tinggi, kenaikan biaya perumahan, beban utang mahasiswa, serta ketidakpastian pasar kerja pasca‑pandemi. Selain itu, rasa kurangnya kepercayaan terhadap institusi pemerintah dan korporasi juga menjadi poin penting dalam menurunnya keyakinan tersebut.

Para pakar ekonomi menilai bahwa hasil survei ini mencerminkan tantangan struktural yang telah lama menggerogoti fondasi “American Dream”. Menurut mereka, kebijakan fiskal yang belum cukup responsif, serta ketimpangan dalam akses pendidikan dan perawatan kesehatan, memperparah persepsi negatif masyarakat.

Aspek Tingkat Kepercayaan (%)
Peluang Karir 47
Kepemilikan Rumah 44
Kesejahteraan Finansial 49

Meski begitu, sebagian kecil responden (sekitar 19 %) masih optimis bahwa “American Dream” dapat terwujud kembali dengan reformasi kebijakan yang tepat. Mereka menekankan pentingnya investasi pada pendidikan, inovasi teknologi, dan kebijakan pajak yang lebih progresif.

Survei ini menandai pergeseran persepsi publik yang dapat memengaruhi arah kebijakan pemerintah di masa mendatang. Jika rasa tidak percaya ini terus meluas, tekanan untuk melakukan perubahan struktural akan semakin kuat, baik dari kalangan politikus maupun aktivis sosial.