Tuntutan Aliansi BEM SI Jateng: Kuatkan Rupiah dalam 18 Hari
Tuntutan Aliansi BEM SI Jateng: Kuatkan Rupiah dalam 18 Hari

Tuntutan Aliansi BEM SI Jateng: Kuatkan Rupiah dalam 18 Hari

Frankenstein45.Com – 07 Juni 2026 | Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Program Studi Ilmu Sosial (BEM SI) Jawa Tengah kembali mengeluarkan tuntutan yang menegaskan urgensi penguatan nilai tukar Rupiah dalam rentang waktu yang sangat singkat, yakni 18 hari. Tuntutan ini muncul di tengah tekanan inflasi yang terus meningkat serta penurunan nilai tukar yang memicu keresahan di kalangan mahasiswa dan masyarakat umum.

Ketua Aliansi BEM SI Jateng, dalam pernyataan resmi, menegaskan bahwa jika pemerintah tidak dapat memenuhi target penguatan Rupiah dalam batas waktu tersebut, aliansi akan melancarkan aksi demonstrasi yang dinamakan “Reformasi Jilid 2”. Demonstrasi ini diproyeksikan akan melibatkan ribuan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di wilayah Jawa Tengah, dengan agenda menuntut kebijakan ekonomi yang lebih responsif.

Beberapa faktor yang menjadi latar belakang tuntutan tersebut antara lain:

  • Depresiasi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat yang mencapai level terendah dalam tiga tahun terakhir.
  • Kenaikan harga pangan dan bahan pokok yang memperburuk daya beli masyarakat.
  • Kebijakan moneter yang dianggap terlalu longgar oleh kalangan akademisi dan aktivis mahasiswa.

Untuk mencapai target penguatan Rupiah dalam 18 hari, Aliansi BEM SI Jateng mengusulkan serangkaian langkah strategis yang dapat diimplementasikan oleh Bank Indonesia dan Pemerintah, antara lain:

  1. Peningkatan suku bunga acuan (BI Rate) untuk menahan arus keluar modal.
  2. Intervensi pasar valuta asing secara intensif melalui penjualan cadangan devisa.
  3. Penerapan kebijakan fiskal yang menahan defisit anggaran dan mengurangi ketergantungan pada pinjaman luar negeri.
  4. Peningkatan transparansi data ekonomi guna menumbuhkan kepercayaan investor.
  5. Penguatan regulasi terhadap spekulan mata uang asing.

Para pengamat ekonomi memperingatkan bahwa pencapaian target dalam jangka waktu sesingkat itu memerlukan koordinasi yang kuat antara otoritas moneter, fiskal, dan sektor swasta. Jika tidak, aksi demonstrasi yang dijanjikan dapat memperparah volatilitas pasar dan menambah tekanan pada nilai tukar.

Sejauh ini, respons resmi pemerintah masih dalam tahap pertimbangan. Namun, tekanan publik yang digerakkan oleh aksi-aksi mahasiswa di masa lalu, seperti Reformasi Jilid 1 pada tahun 2020, memberikan sinyal bahwa pemerintah tidak dapat mengabaikan tuntutan tersebut begitu saja.

Apabila tenggat waktu 18 hari terlewati tanpa adanya langkah konkret, Aliansi BEM SI Jateng menegaskan akan melaksanakan aksi “Reformasi Jilid 2” sesuai dengan jadwal yang telah diumumkan sebelumnya, dengan harapan dapat memaksa pemerintah mengambil kebijakan yang lebih tegas demi stabilitas ekonomi nasional.