Frankenstein45.Com – 23 Mei 2026 | JAKARTA – Dini hari di Yogyakarta terasa lebih tenang daripada biasanya; tidak ada gempa, tidak ada letusan Merapi, dan tidak ada hiruk‑pikuk politik nasional. Namun, percakapan di sejumlah grup WhatsApp mulai ramai membahas sosok ulama yang dikenal sebagai pencetus Tauhid Rahmatiyah.
Tauhid Rahmatiyah merupakan pendekatan baru dalam pemahaman tauhid yang menekankan keutamaan rahmat Allah dalam setiap aspek kehidupan umat Islam. Pendekatan ini dipelopori oleh seorang ulama kontemporer, K.H. Ahmad Zainur Rahman (lahir 1962), yang menempuh pendidikan tradisional di pesantren sekaligus menimba ilmu modern di perguruan tinggi Islam terkemuka.
Berikut beberapa poin penting mengenai tokoh ini dan ajarannya:
- Latar Belakang Pendidikan: Menghafal Al‑Qur’an sejak usia dini, melanjutkan studi di Pesantren Al‑Miftahul Huda, kemudian menuntut ilmu di Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga.
- Konsep Tauhid Rahmatiyah: Menekankan bahwa Allah adalah Maha Rahman (Maha Penyayang) dan Maha Rahim (Maha Pengasih), sehingga setiap tindakan manusia harus mencerminkan rahmat tersebut.
- Metode Dakwah: Menggunakan media sosial, ceramah daring, serta diskusi interaktif di platform seperti WhatsApp dan Telegram untuk menjangkau generasi muda.
- Pengaruh Terhadap Masyarakat: Meningkatnya minat umat terhadap kajian tasawuf yang bersifat rahmatan, serta munculnya komunitas‑komunitas kecil yang mengadopsi nilai‑nilai Tauhid Rahmatiyah dalam kegiatan sosial.
Reaksi para ulama lain beragam. Sebagian menilai pendekatan ini sebagai upaya positif untuk menyeimbangkan aspek hukum Islam dengan nilai kemanusiaan, sementara yang lain mengkhawatirkan potensi penyimpangan bila konsep rahmat ditafsirkan secara sempit.
Diskusi di grup‑grup WhatsApp Yogyakarta, yang melibatkan mahasiswa, aktivis, dan tokoh agama, memperlihatkan dinamika pemikiran yang hidup. Banyak yang mengajukan pertanyaan tentang aplikasi praktis Tauhid Rahmatiyah dalam bidang pendidikan, ekonomi, dan politik.
Ke depan, diperkirakan akan muncul lebih banyak literatur, buku, dan modul pelatihan yang mengintegrasikan ajaran Tauhid Rahmatiyah ke dalam kurikulum pesantren dan perguruan tinggi Islam.
Dengan demikian, peran ulama pencetus Tauhid Rahmatiyah tidak hanya terbatas pada ranah teologi, melainkan meluas ke bidang sosial‑budaya, menjadikan rahmat sebagai landasan utama dalam membangun peradaban Islam yang inklusif.




