Akuisisi Kapal Induk Garibaldi Picu Pro dan Kontra, Pengamat Militer: Cocok untuk Evakuasi WNI dan Kapal Angkut Heli
Akuisisi Kapal Induk Garibaldi Picu Pro dan Kontra, Pengamat Militer: Cocok untuk Evakuasi WNI dan Kapal Angkut Heli

Akuisisi Kapal Induk Garibaldi Picu Pro dan Kontra, Pengamat Militer: Cocok untuk Evakuasi WNI dan Kapal Angkut Heli

Frankenstein45.Com – 11 Juni 2026 | Pemerintah Indonesia kembali menjadi sorotan setelah mengumumkan rencana akuisisi kapal induk kelas Garibaldi yang sebelumnya beroperasi di Angkatan Laut Italia. Penawaran tersebut menimbulkan perdebatan tajam di kalangan politik, militer, dan publik.

Pro yang diutarakan antara lain:

  • Menambah kemampuan proyeksi kekuatan di wilayah perairan Nusantara.
  • Memberikan platform yang mampu mengangkut dan meluncurkan helikopter untuk operasi SAR dan evakuasi warga Indonesia di luar negeri.
  • Berpotensi menjadi basis latihan bagi personel angkatan laut dalam operasi kapal perang modern.
  • Memperkuat posisi Indonesia dalam kerjasama multinasional, khususnya dalam misi kemanusiaan.

Kontra yang muncul meliputi:

  • Biaya akuisisi dan pemeliharaan yang sangat tinggi, diperkirakan mencapai puluhan miliar dolar.
  • Kesesuaian kapal Garibaldi dengan infrastruktur pelabuhan dan dok militer Indonesia yang masih terbatas.
  • Risiko ketergantungan pada teknologi asing serta kebutuhan logistik yang kompleks.
  • Apakah kapal induk seukuran ini memang dibutuhkan mengingat fokus pertahanan maritim Indonesia pada kapal selam dan kapal patroli.

Seorang pengamat militer menekankan bahwa kapal Garibaldi memiliki ruang dek yang luas dan hangar yang dapat dimodifikasi menjadi fasilitas evakuasi warga negara Indonesia (WNI) serta sebagai kapal pengangkut helikopter. Menurutnya, “kapal ini cocok untuk operasi evakuasi di perairan nasional dan dapat menjadi tulang punggung dalam penanggulangan bencana serta misi kemanusiaan.”

Sementara itu, pihak yang menentang akuisisi menyoroti bahwa dana sebesar itu lebih tepat dialokasikan untuk memperkuat armada kapal patroli dan kapal selam, yang lebih relevan dengan strategi pertahanan berlapis Indonesia.

Debat ini diperkirakan akan berlanjut di parlemen dan kalangan militer, dengan keputusan akhir masih menunggu kajian mendalam mengenai manfaat strategis versus beban finansial yang ditimbulkan.