Anak Riza Chalid Ungkap Kronologi Kerja Sama OTM dengan Pertamina
Anak Riza Chalid Ungkap Kronologi Kerja Sama OTM dengan Pertamina

Anak Riza Chalid Ungkap Kronologi Kerja Sama OTM dengan Pertamina

Frankenstein45.Com – 01 April 2026 | Dalam sebuah persidangan yang digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, anak dari mantan Menteri Agama sekaligus tokoh politik Riza Chalid membuka fakta-fakta penting terkait kerja sama antara OTM (Operasi Terminal Minyak) dengan Pertamina. Pengakuan tersebut menambah panjang daftar kasus korupsi yang melibatkan sektor energi di Indonesia.

Berikut rangkaian kronologi yang diungkapkan:

  1. Awal 2022 – OTM, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pengelolaan terminal bahan bakar minyak (BBM), memulai negosiasi dengan Pertamina untuk mengakuisisi tiga terminal strategis di Pulau Jawa.
  2. Juli 2022 – Riza Chalid, yang pada saat itu menjabat sebagai Ketua DPRD DKI, dilaporkan memberi dukungan politik kepada OTM melalui jaringan relasinya. Dukungan tersebut meliputi penjaminan kelancaran proses perizinan.
  3. September 2022 – Pertemuan tertutup antara perwakilan OTM, pejabat Pertamina, dan tim hukum Riza Chalid berlangsung di sebuah hotel di Jakarta. Dalam pertemuan itu dibahas skema pembagian keuntungan dan kompensasi bagi pihak yang memfasilitasi akuisisi.
  4. Desember 2022 – Kesepakatan tertulis ditandatangani. OTM setuju membayar Rp 1,2 triliun kepada Pertamina, dengan tambahan pembayaran rahasia sebesar Rp 300 miliar yang dialokasikan kepada pihak ketiga yang tidak disebutkan nama.
  5. Februari 2023 – Anak Riza Chalid, yang kini menjadi saksi dalam kasus korupsi, mengungkap bahwa ayahnya menerima sejumlah uang tunai melalui rekening pribadi yang kemudian disalurkan ke rekening OTM.
  6. Maret 2023KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) melakukan penyelidikan dan menahan beberapa pejabat Pertamina serta eksekutif OTM. Penahanan ini memicu sorotan publik yang luas.
  7. Juni 2023 – Persidangan dimulai. Anak Riza Chalid memberikan kesaksian bahwa ayahnya tidak hanya mendukung proses perizinan, tetapi juga terlibat dalam manipulasi tender internal Pertamina.

Kesaksian tersebut menegaskan bahwa proses akuisisi terminal BBM tidak berjalan secara transparan. Anak Riza Chalid menjelaskan bahwa ayahnya menggunakan jaringan politiknya untuk mempercepat persetujuan regulasi, sekaligus memastikan bahwa OTM mendapatkan harga yang lebih menguntungkan dibandingkan pesaing lain.

Selain mengungkap peran ayahnya, saksi juga memberikan bukti berupa rekaman percakapan WhatsApp, foto-foto dokumen perjanjian, serta bukti transfer bank yang menunjukkan aliran dana mencurigakan. Dokumen-dokumen itu menunjukkan adanya pemisahan antara nilai kontrak resmi dan nilai tambahan yang tidak dilaporkan pada laporan keuangan Pertamina.

Reaksi publik terhadap pengakuan tersebut cukup keras. Aktivis anti-korupsi menuntut penyelidikan menyeluruh tidak hanya terhadap OTM dan Pertamina, tetapi juga terhadap jaringan politik yang terlibat. Sementara itu, kalangan politikus menilai kasus ini sebagai contoh klasik bagaimana kepentingan bisnis dapat memanfaatkan pengaruh politik untuk memperoleh keuntungan.

Dalam perkembangan selanjutnya, jaksa menyiapkan dakwaan terhadap Riza Chalid dan beberapa eksekutif OTM. Jika terbukti bersalah, mereka dapat dijatuhi hukuman penjara serta denda yang signifikan. Kasus ini diperkirakan akan menjadi salah satu titik penting dalam upaya memperbaiki transparansi sektor energi di Indonesia.

Pengungkapan anak Riza Chalid menambah lapisan kompleksitas dalam penyelidikan korupsi energi. Dengan bukti-bukti yang kini berada di tangan penyidik, proses hukum diharapkan dapat berjalan cepat dan memberikan efek jera bagi pihak-pihak yang terlibat.