Frankenstein45.Com – 08 Mei 2026 | Direktur Utama Lembaga Kantor Berita Nasional Antara, Benny Siga Butarbutar, menekankan bahwa laju pertumbuhan informasi instan di platform media sosial menimbulkan risiko penyebaran konten yang belum terverifikasi. Menurutnya, kecepatan penyebaran pesan, gambar, atau video dapat memperparah penyebaran hoaks, menimbulkan kepanikan, serta memengaruhi opini publik secara negatif.
Butarbutar menambahkan bahwa tantangan utama bukan sekadar jumlah konten yang beredar, melainkan kualitas verifikasi yang sering terabaikan. Ia mengajak seluruh pemangku kepentingan—pemerintah, platform digital, lembaga media, serta masyarakat—untuk berkolaborasi dalam membangun ekosistem informasi yang lebih sehat.
- Peningkatan literasi digital: Edukasi masyarakat tentang cara memeriksa sumber dan kredibilitas konten.
- Peran platform: Algoritma harus didesain untuk memberi prioritas pada konten terverifikasi dan menandai potensi misinformasi.
- Regulasi yang proporsional: Kebijakan harus melindungi kebebasan berpendapat sambil menindak tegas penyebaran konten palsu.
Antara juga menyoroti pentingnya peran jurnalis dalam menegakkan standar etika. Penulis berita diharapkan melakukan verifikasi silang, mencantumkan sumber yang jelas, dan menghindari sensasi yang dapat mempercepat viralnya informasi yang belum teruji.
Selain itu, lembaga antariksa informasi mengusulkan pembentukan pusat monitoring yang terintegrasi antara pemerintah, penyedia layanan internet, dan organisasi non‑profit. Pusat ini akan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan untuk mendeteksi pola penyebaran hoaks secara real‑time.
Dengan meningkatnya ketergantungan publik pada media sosial untuk memperoleh berita, upaya kolektif ini diharapkan dapat menurunkan angka penyebaran informasi palsu dan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap sumber berita yang kredibel.







