Frankenstein45.Com – 18 April 2026 | Hari keenam misi Artemis II menandai puncak petualangan luar angkasa pertama manusia yang kembali mengorbit mengelilingi Bulan sejak era Apollo. Selama fase ini, empat astronot Amerika Serikat—Reid Wiseman, Victor Glover, Christina H. Koch, dan Jeremy Hansen—menyelesaikan lintasan mengelilingi Bulan, menguji sistem komunikasi, navigasi, serta prosedur keselamatan yang menjadi fondasi program kembali ke permukaan Bulan pada 2027.
Rangkaian Misi dan Tujuan Utama
Artemis II diluncurkan pada 20 Desember 2025 dengan roket Space Launch System (SLS) yang menyalurkan kapsul berawak Orion ke orbit translunar. Setelah menembus orbit Bumi, Orion melakukan manuver translunar injection (TLI) untuk menembus lintasan ke arah Bulan. Pada hari ke-6, kapsul berada pada jarak terdekat sekitar 70.000 kilometer dari permukaan Bulan, memberikan kesempatan bagi awak untuk melakukan foto-foto, pengukuran medan gravitasi, serta pengujian sistem komunikasi dengan pusat kontrol di Houston.
Kecepatan Rekor dan Dinamika Masuk Kembali Atmosfer
Selama fase masuk kembali ke atmosfer Bumi, Orion melaju dengan kecepatan puncak yang diperkirakan mencapai 48.021 km/jam, melampaui rekor Apollo 10 yang tercatat 39.897 km/jam pada 1969. Kecepatan tersebut setara dengan Mach 32, menandakan tekanan termal yang sangat tinggi pada perisai panas kapsul. Astronot menempuh 13 menit 36 detik dalam fase kritis ini, saat lapisan atmosfer mulai menimbulkan gesekan yang memunculkan suhu hingga 2.760 °C pada permukaan perisai.
Masalah pada Perisai Panas dan Tindakan NASA
Setelah mendarat di Samudra Pasifik pada 17 April 2026, tim pemulihan menemukan bekas putih pada tepi perisai panas, menandakan kerusakan lokal berupa pengelupasan lapisan isolasi termal. Reid Wiseman melaporkan bahwa dua titik pada “shoulder” perisai mengalami pembakaran ringan. Meskipun demikian, Administrator NASA Jared Isaacman menegaskan bahwa kerusakan serupa pernah diujicobakan pada tes darat dengan suhu ekstrem, sehingga tidak mengancam integritas kapsul secara keseluruhan.
Para insinyur kini akan melakukan analisis mendalam terhadap data suhu, tekanan, serta distribusi panas selama re‑entry. Fokus utama adalah mengevaluasi ketahanan material ablative yang diproduksi oleh Lockheed Martin, serta meninjau kembali lintasan masuk yang telah dimodifikasi untuk mengurangi beban termal setelah temuan pada misi tanpa awak Artemis I tahun 2022, di mana perisai panas menunjukkan retakan dan lapisan terbakar lebih luas.
Langkah Selanjutnya dan Implikasi untuk Artemis III
NASA merencanakan serangkaian penerbangan uji coba orbital Orion dalam beberapa bulan ke depan, dengan tujuan menvalidasi kembali sistem propulsi, kontrol, serta perisai panas yang telah mengalami perbaikan. Data yang terkumpul dari Artemis II akan menjadi bahan utama untuk menyempurnakan strategi pendaratan manusia di permukaan Bulan pada Artemis III, yang dijadwalkan berlangsung pada akhir 2027.
Keberhasilan Artemis II tidak hanya terletak pada pencapaian teknis, melainkan juga pada kemampuan tim astronaut dan kontrol misi untuk mengatasi situasi darurat secara real time. Glover menyebutkan bahwa koordinasi antara kapsul, kapal penyelamat, dan pusat kontrol berlangsung “tanpa hambatan”, memperlihatkan kesiapan operasional NASA dalam misi-misi berisiko tinggi di masa depan.
Dengan catatan teknis yang masih harus ditindaklanjuti, Artemis II tetap menjadi tonggak sejarah yang menandai kembalinya manusia ke wilayah luar angkasa yang paling menantang. Keberanian para astronaut, dukungan ilmuwan, serta inovasi industri kedirgantaraan membuktikan bahwa program Artemis berada pada jalur yang tepat untuk mewujudkan kembali kehadiran manusia di Bulan dan, pada akhirnya, ke Mars.




