Frankenstein45.Com – 10 April 2026 | NASA berhasil meluncurkan misi berawak Artemis II pada 1 April 2026 dari Kennedy Space Center, Florida, menandai kembali langkah manusia ke luar angkasa setelah hampir satu dekade sejak era Apollo. Kapal ruang angkasa Orion, yang diberi nama panggilan “Integrity” oleh para astronot, menembus orbit melingkar mengelilingi Bumi sebelum melakukan manuver mengarah ke Bulan pada 4 April. Selama perjalanan, tiga astronot Amerika Serikat – Reid Wiseman, Victor Glover, dan Christina Koch – serta astronaut Kanada Jeremy Hansen menghabiskan sepuluh hari di luar angkasa, termasuk fase melintasi sisi jauh Bulan yang tidak pernah terlihat dari permukaan Bumi.
Jadwal Peluncuran dan Rute Penerbangan
Peluncuran Artemis II dimulai dengan roket Space Launch System (SLS) yang menghasilkan dorongan kuat, mengangkat Orion ke orbit bumi rendah sebelum melakukan burn kedua untuk menempatkan kapsul pada lintasan translunar. Pada 4 April, Orion melakukan manuver translunar injection (TLI) yang menyalurkan pesawat ke arah Bulan, menempuh jarak lebih dari 400.000 kilometer – melampaui rekor 400.171 km yang sebelumnya dipegang oleh Apollo 13 pada 1970.
- 1 April 2026 – Peluncuran dari Kennedy Space Center.
- 4 April 2026 – TLI menuju Bulan.
- 6 April 2026 – Foto pertama Orion menghadap permukaan Bulan, menampilkan Bumi biru redup di belakangnya.
- 7 April 2026 – Mulai fase kembali ke Bumi setelah melintasi Bulan.
- 10 April 2026 – Splashdown di Samudra Pasifik lepas pantai San Diego.
Pengamatan dan Penemuan Selama Perjalanan
NASA merilis serangkaian foto beresolusi tinggi yang diambil melalui jendela Orion. Pada 6 April, kamera menangkap gambar Bumi yang tampak biru dengan awan putih di atas permukaan Bulan yang berselimut kawah. Foto berikutnya menampilkan totalitas Bulan yang menutupi Matahari selama hampir 54 menit – durasi yang jauh lebih lama dibandingkan totalitas yang dapat dilihat dari Bumi. Astronot melaporkan bahwa saat totalitas, permukaan Bulan tampak menakjubkan, menyoroti detail topografi seperti kawah Ohm, kawah Vavilov, cekungan Orientale, serta area Selatan-Pole Aitken (SPA) yang memancarkan perbedaan kontras antara daerah terang dan gelap.
Selain foto, misi ini menguji sistem navigasi, kontrol, serta dukungan kehidupan yang diperlukan untuk misi eksplorasi jauh ke Bulan dan seterusnya. Data yang dikumpulkan akan menjadi landasan bagi Artemis III, yang dijadwalkan meluncur pada 2027 dengan tujuan pendaratan manusia di kutub selatan Bulan.
Relevansi Bagi Indonesia
Berita tentang Artemis II mendapat sorotan luas di media Indonesia, termasuk Antara dan Liputan6, yang menyoroti pentingnya kolaborasi internasional dalam eksplorasi luar angkasa. Meskipun Indonesia belum memiliki program berawak sendiri, lembaga antariksa nasional (LAPAN) terus memantau perkembangan teknologi NASA, khususnya dalam bidang komunikasi satelit dan penelitian ilmiah yang dapat diadaptasi untuk kepentingan nasional.
Para ilmuwan dan mahasiswa di Indonesia juga memanfaatkan data gambar dan telemetry dari Artemis II untuk mengembangkan kurikulum STEM, memperkuat pemahaman tentang fisika orbital, serta menginspirasi generasi muda untuk terlibat dalam bidang sains dan teknologi.
Kesimpulan
Dengan konfirmasi resmi dari NASA, Artemis II telah meluncur, berhasil menembus rekor jarak terjauh yang pernah dicapai manusia, serta memberikan gambaran jelas tentang tantangan dan peluang eksplorasi Bulan di era modern. Keberhasilan misi ini tidak hanya menandai langkah maju bagi program Artemis, tetapi juga memperkuat posisi Amerika Serikat sebagai pelopor eksplorasi antariksa berawak, sekaligus membuka peluang kolaborasi internasional, termasuk bagi Indonesia, dalam upaya menyiapkan masa depan penjelajahan luar angkasa.




