Frankenstein45.Com – 29 Mei 2026 | Washington – Dalam pertemuan tertutup yang diadakan pada Rabu (27/5/2026), pejabat tinggi militer Amerika Serikat mengakui bahwa kekuatan militer Republik Rakyat Tiongkok kini berada pada level yang sebanding dengan militer Amerika Serikat. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Jenderal Mark Milley, panglima Angkatan Darat, yang menegaskan bahwa Tiongkok menjadi ancaman strategis terbesar bagi keamanan nasional AS.
Pengakuan resmi kekuatan militer China
Jenderal Milley menyebutkan bahwa selama satu dekade terakhir, anggaran pertahanan China meningkat secara signifikan, mencapai lebih dari 300 miliar dolar AS pada tahun 2025. Investasi besar‑besaran ini meliputi pengembangan kapal induk, jet tempur generasi kelima, serta sistem pertahanan siber yang semakin canggih. “Kita tidak dapat lagi menganggap China sebagai pemain sekunder. Mereka sudah menjadi setara dalam hal kemampuan operasional dan proyeksi kekuatan di kawasan Indo‑Pasifik,” ujar Milley dalam rapat kabinet.
Perspektif strategis Washington
Pengakuan tersebut muncul bersamaan dengan meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz, di mana Presiden Donald Trump dalam sebuah pertemuan kabinet pada tanggal yang sama mengancam akan melakukan aksi militer terhadap Oman jika negara tersebut berkoalisi dengan Iran untuk mengendalikan jalur pelayaran strategis tersebut. Ancaman ini menambah daftar panjang tindakan agresif yang pernah diungkapkan Trump selama dua masa jabatan kepresidenannya.
Selama dua periode kepresidenannya, Trump tercatat mengancam, membuka kemungkinan serangan, atau melancarkan operasi militer terhadap 15 negara, termasuk Iran, Irak, Nigeria, Somalia, Suriah, Venezuela, dan Yaman. Total negara yang terancam mencakup sekitar satu per seratus penduduk dunia, menimbulkan kekhawatiran global terhadap kebijakan luar negeri Amerika yang cenderung menggunakan kekuatan militer sebagai alat utama diplomasi.
Implikasi bagi kebijakan pertahanan AS
Pengakuan tentang kesetaraan militer China memaksa Pentagon untuk meninjau kembali strategi aliansi di wilayah Asia‑Pasifik. Amerika Serikat diperkirakan akan memperkuat kerjasama militer dengan sekutu tradisionalnya, seperti Jepang, Korea Selatan, dan Australia, serta meningkatkan kehadiran pasukan di pangkalan-pangkalan strategis. Di sisi lain, Washington juga menekankan pentingnya memperkuat kapasitas siber dan ruang angkasa untuk menghadapi ancaman teknologi yang semakin kompleks.
- Anggaran pertahanan China 2025: >300 miliar USD.
- Jumlah negara yang pernah diancam Trump: 15.
- Operasi militer AS sejak 2017: 7 serangan langsung.
- Pasukan militer AS di Indo‑Pasifik: lebih dari 60.000 personel.
Reaksi dalam negeri dan internasional
Di dalam negeri, pengakuan tersebut memicu perdebatan sengit di Kongres. Beberapa anggota Senat menuntut peningkatan belanja pertahanan, sementara anggota DPR mengkritik kebijakan luar negeri yang terlalu agresif selama era Trump. Di China, pemerintah menanggapi pernyataan Amerika dengan menegaskan komitmen mereka untuk mempertahankan kedaulatan dan keamanan regional, serta menolak segala bentuk provokasi.
Komunitas internasional, khususnya negara‑negara di kawasan Indo‑Pasifik, menilai situasi ini sebagai panggilan untuk dialog multilateral. ASEAN, misalnya, menyerukan pembentukan mekanisme keamanan bersama yang dapat menurunkan risiko konfrontasi militer antara dua kekuatan besar.
Secara keseluruhan, pengakuan resmi Amerika Serikat tentang kesetaraan militer China menandai titik balik dalam dinamika geopolitik global. Dengan ancaman yang terus berkembang, baik dari kebijakan luar negeri yang agresif maupun dari persaingan teknologi, kedua negara diperkirakan akan terus berkompetisi dalam arena militer, ekonomi, dan diplomasi selama dekade mendatang.




