Frankenstein45.Com – 09 April 2026 | Negara yang selama berabad-abad dikenal dengan sebutan Persia resmi mengubah nama internasionalnya menjadi Iran pada pertengahan abad ke-20. Perubahan ini mencerminkan dinamika politik, budaya, dan identitas nasional yang kompleks.
Latar Belakang Etymologis
Istilah “Iran” berasal dari kata “Aryānā” dalam bahasa Parsi Kuno yang berarti “tanah orang Arya”. Penyebutan ini telah ada dalam teks‑teks Zoroastrian dan sejarah kuno, namun selama berabad‑abad dunia Barat lebih familiar dengan nama “Persia”, yang diambil dari provinsi Parsa (Fars) di selatan negara tersebut.
Langkah Resmi Mengganti Nama
Pada tahun 1935, Reza Shah Pahlavi mengirimkan nota diplomatik kepada kedutaan‑kedutaan di luar negeri, meminta penggunaan nama “Iran” dalam semua dokumen resmi. Tujuan utamanya meliputi:
- Menegaskan kedaulatan dan identitas nasional yang berakar pada warisan Arya.
- Menyatukan beragam etnis dan wilayah di bawah satu sebutan yang lebih inklusif.
- Mengurangi pengaruh kolonial Barat yang selama ini menekankan “Persia”.
Dampak dan Reaksi Internasional
Perubahan nama mendapat sambutan beragam. Di dalam negeri, sebagian kalangan intelektual menyambut baik upaya modernisasi, sementara kelompok tradisional merasa kehilangan warisan budaya yang telah dikenal secara global. Di luar negeri, media Barat awalnya masih menggunakan “Persia” hingga pertengahan 1950‑an sebelum beralih ke “Iran”.
Mengapa Identitas “Persia” Masih Bertahan?
Walaupun nama resmi adalah Iran, istilah “Persia” tetap hidup dalam konteks kebudayaan, seni, dan sejarah. Hal ini disebabkan oleh:
- Penggunaan istilah tersebut dalam literatur klasik Barat sejak zaman Yunani dan Romawi.
- Pengakuan dunia internasional terhadap warisan seni, arsitektur, dan puisi Persia yang terkenal.
- Identitas diaspora Iran yang masih mengidentifikasikan diri sebagai “Orang Persia”.
Seiring waktu, kedua nama tersebut kini sering dipakai bergantian, tergantung pada konteks politik atau budaya yang diangkat.




