Frankenstein45.Com – 20 Juni 2026 | Muharram, bulan pertama dalam kalender Hijriyah, tidak hanya menandai pergantian tahun, tetapi juga menyertakan dua puasa sunnah yang dikenal sebagai Puasa Tasua (9 Muharram) dan Puasa Asyura (10 Muharram).
Kedua puasa ini memiliki akar sejarah yang melibatkan beberapa tradisi pra‑Islam, termasuk praktik‑praktik yang diadopsi dari komunitas Yahudi yang tinggal di Semenanjung Arab pada masa awal Islam.
- Puasa Asyura awalnya diperingati sebagai hari peringatan pembebasan Nabi Musa (Moses) Bani Israil dari Firaun, yang sejalan dengan perayaan Yom Kippur (Hari Penebusan) dalam tradisi Yahudi.
- Puasa Tasua muncul sebagai hari puasa tambahan yang menandai kesucian dan persiapan spiritual menjelang Asyura.
- Menurut riwayat sahih, pada masa Nabi Muhammad SAW, umat Muslim awalnya melaksanakan puasa Asyura secara individu, mirip dengan kebiasaan Yahudi.
- Setelah turunnya ayat Al‑Qur’an yang menegaskan bahwa Asyura bukanlah hari khusus bagi umat Islam, Nabi Muhammad menambah puasa pada tanggal 9 Muharram (Tasua) sebagai bentuk penegasan identitas Islam yang terpisah.
Beberapa sejarawan mencatat bahwa praktik puasa pada hari Asyura sudah ada di kalangan Arab sebelum kedatangan Islam, dipengaruhi oleh pertemuan dagang dan budaya dengan komunitas Yahudi di Yaman, Madinah, dan wilayah Najd. Namun, transformasi ritual tersebut menjadi bagian dari sunnah Islam terjadi melalui penyesuaian ajaran Nabi yang menekankan niat dan konteks keagamaan yang baru.
Secara singkat, Puasa Asyura dan Tasua memang memiliki jejak awal yang bersinggungan dengan tradisi Yahudi, namun sejak masa Nabi Muhammad keduanya diintegrasikan ke dalam kerangka ibadah Islam dengan makna yang berbeda, menekankan rasa syukur atas keselamatan umat Islam dan refleksi spiritual pada permulaan tahun Hijriyah.




