Frankenstein45.Com – 28 April 2026 | Direktorat Penyelenggaraan Transportasi Kereta Api (DPTK) mengumumkan bahwa bahan bakar B50 akan mulai dioperasikan secara komersial pada 1 Juli 2026. Sebelum itu, B50 telah menjalani serangkaian uji coba pada kereta api Bogowonto yang melayani rute Jakarta‑Cirebon.
B50 adalah campuran antara bahan bakar minyak solar (diesel) dan biodiesel dengan perbandingan masing‑masing 50 persen. Kombinasi ini diharapkan dapat menurunkan emisi karbon dioksida hingga 30 persen dibandingkan diesel murni, serta mengurangi ketergantungan pada minyak bumi.
Uji coba yang dilakukan selama tiga bulan meliputi:
- Pengukuran performa mesin kereta dalam kondisi beban penuh.
- Analisis konsumsi bahan bakar per kilometer.
- Monitoring emisi gas buang, terutama CO₂, NOₓ, dan partikulat.
Hasil sementara menunjukkan bahwa B50 memberikan performa yang setara dengan diesel konvensional, dengan penurunan konsumsi bahan bakar sebesar 4‑5 persen dan pengurangan emisi yang signifikan. Tidak ada keluhan signifikan dari masinis maupun penumpang selama periode percobaan.
Pemerintah menilai keberhasilan uji coba ini sebagai langkah penting dalam upaya diversifikasi energi transportasi publik. Selain manfaat lingkungan, penggunaan biodiesel yang diproduksi dari limbah kelapa sawit dan minyak jelantah diharapkan dapat membuka peluang ekonomi bagi petani dan pengolah limbah di daerah produksi.
Untuk memastikan ketersediaan bahan bakar B50 secara nasional, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menyiapkan regulasi yang mempermudah produksi dan distribusi biodiesel, termasuk insentif pajak bagi produsen. Penyesuaian infrastruktur pengisian bahan bakar di stasiun‑stasiun utama juga sedang dilakukan.
Dengan jadwal implementasi resmi pada 1 Juli 2026, kereta KA Bogowonto akan menjadi pelopor penggunaan B50 di jaringan kereta api Indonesia, sekaligus menjadi contoh bagi moda transportasi lain yang berencana beralih ke bahan bakar ramah lingkungan.




