Frankenstein45.Com – 20 April 2026 | Bandung Selatan kembali dilanda banjir pada Minggu, 19 April 2026, ketika curah hujan tinggi memicu luapan Sungai Citarum. Banjir setinggi 30 sentimeter hingga 2 meter melanda tiga kecamatan, termasuk Dayeuhkolot, Bojongsoang, dan Baleendah. Genangan air menggenangi jalan utama, mengganggu aktivitas warga, dan menimbulkan kerugian material yang signifikan.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dalam kunjungan ke Gedung Sate pada Rabu, 17 Desember 2025, dan kembali pada Senin, 20 April 2026, menegaskan pentingnya menjaga nilai-nilai kehutanan serta memperkuat ketahanan pangan melalui diversifikasi pertanian. Ia menyoroti bahwa istilah “Bandung” berasal dari kata “Bandungan”, yang mengandung makna hutan yang harus dijaga. “Sebagai nama yang dijelaskan tadi, Bandung, Bandungan, artinya ada nilai‑nilai hutan yang harus dijaga,” ujar Dedi kepada para hadirin setelah rapat paripurna DPRD Kabupaten Bandung.
Upaya Pemerintah Menghadapi Banjir
Menurut Bupati Dadang Supriatna, banjir di Dayeuhkolot bukan fenomena baru. Selama bertahun‑tahun, daerah ini sering menjadi zona rawan karena topografi rendah dan penurunan kapasitas penampungan sungai. Program nasional “Citarum Harum” telah mengurangi luas wilayah terdampak dari 4.000 hektar menjadi sekitar 1.500 hektar, namun sedimentasi yang tidak terkelola tetap menjadi penyebab utama kembali terjadinya banjir.
- Durasi banjir pada tahun 2025 berhasil dipersingkat menjadi dua hari, dibandingkan sebelumnya yang bisa berlangsung hingga satu bulan.
- Faktor curah hujan tinggi dan kurangnya pemeliharaan infrastruktur memperpanjang durasi banjir pada 2026, dengan beberapa wilayah mengalami genangan selama satu hingga dua minggu.
Gubernur Dedi menambahkan bahwa kolaborasi lintas sektor telah dimulai. Ia menginstruksikan Bupati untuk memperkuat sinergi antara pemerintah daerah, lembaga swadaya masyarakat, dan komunitas petani dalam mengatasi masalah banjir dan degradasi hutan.
Strategi Diversifikasi Pertanian dan Penanaman Tanaman Perkebunan
Sebagai bagian dari strategi ketahanan pangan, Dedi Mulyadi mengusulkan peralihan pekerjaan bagi para pekerja harian dari sektor konstruksi ke sektor pertanian perkebunan. “Termasuk mengalihkan profesi pekerjaan yang tadinya kuli buruh menanam sayur menjadi buruh menanam teh dan menanam kopi, serta tanaman keras lainnya,” jelasnya. Program ini tidak hanya bertujuan meningkatkan pendapatan, tetapi juga memperbaiki fungsi ekologi daerah yang selama ini didominasi oleh lahan pertanian intensif.
Beberapa langkah konkret yang telah diimplementasikan meliputi:
- Penyuluhan teknik pertanian berkelanjutan kepada petani di Dayeuhkolot dan sekitarnya.
- Penyediaan bibit sayur, kopi, dan teh yang tahan terhadap kondisi tanah dan iklim lokal.
- Pembentukan koperasi pertanian untuk memfasilitasi pemasaran hasil panen secara langsung ke pasar kota.
Gubernur menegaskan bahwa perubahan ini harus meningkatkan pendapatan petani, bukan menguranginya. “Mereka tetap tidak boleh kehilangan penghasilannya, bahkan harus bertambah,” tegas Dedi.
Isu Lingkungan Lainnya: Sampah dan Infrastruktur
Selain banjir, Kabupaten Bandung menghadapi tantangan lain seperti penumpukan sampah. Data terbaru menunjukkan produksi sampah mencapai sekitar 1.800 ton per hari. Pemerintah daerah telah mengoptimalkan fasilitas TPST, mengimplementasikan program zero waste, dan mengembangkan RDF (Refuse Derived Fuel) untuk mengubah sampah menjadi energi.
Inisiatif ini diharapkan dapat mengurangi beban pada Tempat Pembuangan Sementara (TPS) serta mengurangi potensi pencemaran yang dapat memperparah risiko banjir di daerah aliran sungai.
Harapan dan Langkah Kedepan
Gubernur Dedi Mulyadi menutup kunjungannya dengan harapan bahwa sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta akan menghasilkan solusi jangka panjang. Ia menekankan pentingnya kesadaran kolektif dalam menjaga hutan, mengelola air, dan memajukan pertanian berkelanjutan.
Dengan upaya terkoordinasi, diharapkan Dayeuhkolot dan kecamatan sekitarnya dapat mengurangi frekuensi dan dampak banjir, meningkatkan kesejahteraan petani, serta melestarikan nilai‑nilai alam yang menjadi identitas wilayah Bandung Selatan.




