Frankenstein45.Com – 09 Mei 2026 | Hujan deras yang melanda wilayah Sumatera Selatan dan beberapa kabupaten di Sulawesi pada awal Mei 2026 memicu serangkaian banjir yang menimbulkan kerugian material, gangguan mobilitas, hingga korban jiwa. Dari ibu kota provinsi Sumsel, Palembang, hingga Kabupaten Bone di Sulawesi Selatan, kejadian banjir menegaskan perlunya sinergi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat dalam mengelola risiko banjir.
Palembang Kembali Terserang Banjir, Pakar Desak Normalisasi Sungai
Wali Kota Palembang 2003-2013, Eddy Santana Putra, yang kini menjabat sebagai Ketua Forum Demokrasi Sriwijaya, menilai bahwa manajemen pengendalian banjir harus diperkuat. Ia menyoroti titik‑titik rawan yang terus tergenang akibat intensitas hujan tinggi. “Kita sudah beri masukan ke wali kota Ratu Dewa, dan beliau sangat terbuka,” ungkap Eddy pada forum yang dihadiri oleh camat, lurah, serta OPD terkait.
Eddy menekankan pembentukan satuan tugas khusus yang sedang dibentuk setelah rapat koordinasi di Pemprov Sumsel. Langkah konkret meliputi penambahan tempat sampah untuk mencegah sampah masuk sungai, pengerukan sungai dengan ekskavator, serta gotong‑royong bersih‑bersih lingkungan. Ia juga mengingatkan agar kegiatan gotong‑royong tidak bersamaan dengan jadwal Gerakan Indonesia Asri yang diinstruksikan presiden.
Di sisi akademis, Dedi Irwanto, dosen Sejarah Perkotaan UNSRI, mengaitkan masalah banjir dengan warisan kolonial. Pada tahun 1906, Belanda menugaskan BOW (Badan Oefening Water) untuk menyusun rekomendasi pemeliharaan sungai alami setiap tahun. Menurut Dedi, ketidaksesuaian antara kebijakan historis dan praktek modern menjadi faktor penghambat penanggulangan banjir.
Ribuan Rumah Terdampak di Kolaka, Sulawesi Tenggara
Di Kecamatan Samaturu, Kabupaten Kolaka, 188 rumah warga tiga desa terendam air setinggi 60‑100 sentimeter setelah luapan Sungai Konaweha. Desa Konaweha menyumbang 81 rumah terdampak, diikuti Desa Latuo dengan 75 rumah, dan Desa Ulu Konaweha sebanyak 32 rumah. Selain kerusakan tempat tinggal, banjir juga menenggelamkan sekitar 20 hektar tambak ikan, mengancam mata pencaharian warga.
Polsek Samaturu dipimpin IPDA Sabri Sobat, bersama Kasubsi Penmas Humas Polres Kolaka Aiptu Riswandi, melakukan monitoring dan evakuasi cepat. Fokus utama pihak kepolisian adalah “zero victim” atau memastikan tidak ada korban jiwa. Upaya penyelamatan mencakup distribusi pompa air portable dan penyediaan tenda darurat bagi warga yang mengungsi.
Warga Enrekang Gotong Motor Menembus Arus Banjir Setinggi Lutut
Di Desa Masalle, Kecamatan Masalle, Kabupaten Enrekang, warga terpaksa menggotong motor melewati jalan yang tergenang air setinggi lutut orang dewasa. Ammar, seorang penduduk setempat, menjelaskan bahwa arus deras sering meluap hingga satu meter, memaksa warga menunggu sampai air surut atau berusaha menembusnya dengan cara mengangkat motor.
Insiden hampir menelan korban ketika seorang warga terseret arus sambil mengendarai motor. Meskipun selamat, motor terbawa jauh. Camat Masalle, Fatir Nurdin, mengakui perlunya perbaikan infrastruktur, khususnya pembangunan jembatan tinggi yang memungkinkan kendaraan melintas di atas aliran air. Permohonan bantuan kepada pemerintah provinsi telah diajukan, mengingat lokasi tersebut juga melintasi jalur ke sebuah sekolah dasar.
Bone Diterjang Banjir, Dua Warga Meninggal Dunia
Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, mengalami curah hujan ekstrem yang menyebabkan beberapa desa terendam. Tim SAR gabungan yang dipimpin oleh Kepala Seksi Operasi dan Siaga Andi Sultan segera dikerahkan untuk evakuasi. Sayangnya, dua warga dilaporkan meninggal akibat arus deras yang tak terduga.
Tim SAR menggunakan perahu karet dan peralatan penyelamatan lainnya untuk mengevakuasi korban yang terjebak. Pihak berwenang menegaskan pentingnya kesiapsiagaan warga, termasuk pemantauan cuaca dan penempatan posko evakuasi di titik‑titik rawan.
Langkah Konkret Penanggulangan Banjir di Seluruh Indonesia
- Peningkatan Infrastruktur: Pembangunan jembatan tinggi, perbaikan saluran drainase, dan pengerukan sungai secara rutin.
- Pengelolaan Sampah: Penambahan tempat sampah di sekitar sungai serta program edukasi anti‑pembuangan sampah sembarangan.
- Gotong‑Royong dan Kesadaran Masyarakat: Kegiatan bersih‑bersih lingkungan yang dijadwalkan pada hari non‑libur resmi untuk memaksimalkan partisipasi.
- Koordinasi Lintas Lembaga: Satuan tugas khusus yang melibatkan Dinas PUPR, BPBD, kepolisian, serta akademisi.
- Monitoring dan Sistem Peringatan Dini: Penggunaan teknologi sensor curah hujan dan sistem peringatan via SMS kepada warga di zona rawan.
Pengalaman banjir di Palembang, Kolaka, Enrekang, dan Bone menunjukkan bahwa faktor geografis, sejarah tata kelola, serta kesiapsiagaan masyarakat saling berkaitan. Upaya terpadu yang menggabungkan penataan ruang, rehabilitasi sungai, serta edukasi publik menjadi kunci utama untuk meminimalisir dampak banjir di masa depan.
Dengan implementasi kebijakan yang konsisten dan partisipasi aktif dari seluruh elemen, diharapkan Indonesia dapat mengurangi frekuensi dan intensitas banjir yang mengancam kesejahteraan penduduk serta perekonomian lokal.




