BBM Langka? Jaecoo J5 EV Jadi Pilihan Utama, Ini Biaya Pakainya!
BBM Langka? Jaecoo J5 EV Jadi Pilihan Utama, Ini Biaya Pakainya!

BBM Langka? Jaecoo J5 EV Jadi Pilihan Utama, Ini Biaya Pakainya!

Frankenstein45.Com – 07 April 2026 | Ketika pasokan bahan bakar mulai menipis dan harga BBM terus menggelincir, konsumen di seluruh Indonesia mulai mencari alternatif yang lebih hemat dan ramah lingkungan. Di tengah keresahan ini, model plug‑in hybrid dari JAECOO, khususnya varian J5 EV, muncul sebagai jawaban praktis. Menggabungkan mesin bensin berkapasitas menengah dengan motor listrik berdaya tinggi, J5 EV menjanjikan penghematan signifikan tanpa mengorbankan kenyamanan berkendara. Berikut ulasan komprehensif mengenai performa, efisiensi, serta biaya operasional kendaraan ini berdasarkan uji jalan nyata.

Uji Jalan Nyata: Jaecoo J7 SHS‑P Sebagai Representasi J5 EV

Pengujian dilakukan pada model Jaecoo J7 SHS‑P, yang menggunakan arsitektur plug‑in hybrid serupa dengan J5 EV. Dimulai dari Bogor dengan tangki bensin penuh 60 liter dan baterai terisi 100 %, kendaraan menempuh perjalanan mudik sepanjang 1.511,3 km hingga kembali ke titik asal. Selama perjalanan, pengemudi tidak pernah berhenti untuk mengisi bensin, melainkan mengandalkan kombinasi listrik‑bensin. Dalam kondisi macet dan kecepatan rendah, motor listrik 201 Tk dan torsi 310 Nm mendominasi, sementara mesin 1.500 cc turbo 140 Tk berperan hanya sebagai penunjang.

Hasil pengukuran menunjukkan rata‑rata konsumsi bahan bakar mencapai 25 km per liter, sementara konsumsi listrik tercatat sekitar 2,0 wh per km. Kapasitas baterai 18,3 kWh memungkinkan jarak tempuh murni listrik sekitar 100 km, cukup untuk menavigasi daerah perkotaan atau lalu lintas padat tanpa menghabiskan bahan bakar. Setelah menempuh lebih dari 1.500 km, sisa bahan bakar di tangki masih setengah penuh, memberi perkiraan jarak tempuh tambahan sekitar 600 km.

Bandingkan dengan Mobil LCGC Listrik dan Bensin

Untuk memberi perspektif yang lebih luas, perbandingan dilakukan antara mobil listrik BYD Atto 1 dan mobil bensin LCGC Honda Brio. Atto 1 menempuh hingga 8,5 km per kWh, dengan dua varian baterai memberikan jangkauan 300 km atau 380 km per pengisian. Sementara Brio menghasilkan konsumsi antara 16‑20 km per liter, menjadikannya salah satu LCGC paling irit di kelasnya. Namun, perbedaan utama terletak pada biaya energi: listrik rumah tarif Rp 1.444/kWh versus bensin Pertamax Rp 12.300 per liter.

Analisis Biaya Operasional Bulanan

Dengan asumsi penggunaan harian 100‑120 km (Bogor‑Jakarta) selama 30 hari, total jarak tempuh bulanan berkisar 3.000‑3.600 km. Mobil bensin Brio memerlukan 150‑225 liter bensin, menghasilkan biaya bahan bakar antara Rp 1,84 juta‑Rp 2,77 juta. Sebaliknya, Atto 1 membutuhkan 353‑424 kWh listrik; bila diisi di rumah, biaya listrik bulanan berada di kisaran Rp 509.000‑Rp 612.000. Jika mengandalkan SPKLU dengan tarif Rp 2.400‑Rp 2.500/kWh, biaya naik menjadi Rp 847.000‑Rp 1,06 juta. Sementara itu, Jaecoo J5 EV (dengan data J7) mengonsumsi bensin hanya satu kali penuh untuk menempuh lebih dari 1.500 km, artinya biaya bahan bakar per 100 km hanya sekitar Rp 300.000 (dengan harga bensin Rp 12.300/liter), ditambah biaya listrik minimal sekitar Rp 40.000 untuk mengisi baterai selama perjalanan macet.

Jika dihitung secara bulanan dengan pola perjalanan serupa, total biaya operasional Jaecoo J5 EV diproyeksikan berada di antara Rp 600.000‑Rp 800.000, jauh lebih rendah dibandingkan Brio dan bahkan lebih kompetitif dibandingkan Atto 1 yang diisi di SPKLU. Penghematan utama berasal dari kemampuan kendaraan beralih ke mode listrik pada kecepatan rendah, mengurangi beban mesin bensin dan menurunkan konsumsi bahan bakar secara drastis.

Kelebihan dan Tantangan yang Perlu Diperhatikan

  • Keunggulan utama: Daya jelajah listrik sekitar 100 km cukup untuk aktivitas harian di kota, sementara mesin bensin menyediakan jangkauan jauh tanpa khawatir kehabisan bahan bakar.
  • Pengisian fleksibel: Pengguna dapat mengisi daya di rumah, kantor, atau SPKLU, menyesuaikan dengan kebiasaan.
  • Penghematan biaya: Kombinasi konsumsi 25 km/l bensin dan 2 wh/km listrik menghasilkan total biaya operasional paling rendah di antara kompetitor.
  • Tantangan: Ketersediaan infrastruktur SPKLU masih terbatas di beberapa wilayah, sehingga strategi pengisian baterai yang tepat menjadi penting.
  • Perawatan: Sistem hybrid menambah kompleksitas dibandingkan mobil bensin murni, namun komponen listrik yang lebih sedikit mengurangi frekuensi servis rutin.

Kesimpulannya, di tengah kelangkaan BBM, Jaecoo J5 EV menawarkan solusi praktis yang menggabungkan keandalan mesin bensin dengan efisiensi listrik. Dengan konsumsi rata‑rata 25 km per liter dan kemampuan menempuh 100 km dalam mode listrik, biaya operasionalnya dapat ditekan hingga di bawah Rp 1 juta per bulan untuk penggunaan intensif. Dibandingkan dengan mobil listrik murni seperti BYD Atto 1, J5 EV tetap memberikan fleksibilitas perjalanan jauh tanpa bergantung sepenuhnya pada jaringan pengisian. Bagi konsumen yang mengutamakan penghematan serta kepraktisan, J5 EV menjadi pilihan yang layak dipertimbangkan pada era krisis BBM.