Frankenstein45.Com – 28 Juni 2026 | Baru-baru ini Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) bersama aliansi mahasiswa dan unsur masyarakat sipil menyelenggarakan aksi yang dinamakan Solidarity Campaign CFD di kawasan Bundaran HI. Aksi tersebut bukan sekadar demonstrasi biasa; para peserta mengubah area Confrontation Free Zone (CFD) menjadi panggung terbuka untuk menyuarakan aspirasi politik, hak asasi, serta kritik terhadap kebijakan pemerintah.
Acara dimulai pada pagi hari dengan orasi pembukaan yang dipimpin oleh ketua BEM UI, diikuti oleh musik, puisi, serta diskusi terbuka yang melibatkan akademisi, aktivis, dan warga yang hadir. Selama sesi diskusi, sejumlah poin utama disampaikan, antara lain:
- Peningkatan transparansi anggaran publik dan penanggulangan korupsi.
- Pembebasan politik bagi organisasi mahasiswa yang selama ini dibatasi oleh regulasi kampus.
- Penghapusan tindakan represif terhadap demonstran damai.
- Penerapan kebijakan ekonomi yang lebih pro‑rakyat.
Para penyelenggara menekankan bahwa CFD di Bundaran HI dipilih karena lokasinya yang strategis dan simbolis, serta karena sebelumnya area tersebut dijadikan zona larangan demonstrasi. Dengan “menyulap” zona tersebut menjadi ruang kebebasan berekspresi, mereka berharap dapat menantang kebijakan pemerintah yang dinilai menutup telinga terhadap aspirasi publik.
Reaksi pemerintah masih bersifat minim. Hingga saat artikel ini ditulis, tidak ada pernyataan resmi dari pihak kepolisian maupun kementerian terkait. Beberapa pejabat daerah mengaku belum menerima laporan resmi mengenai aksi tersebut, meskipun sejumlah media melaporkan kehadiran ratusan mahasiswa dan warga.
Pengamat politik menilai bahwa aksi ini mencerminkan dinamika baru dalam gerakan mahasiswa Indonesia, di mana strategi kreatif dan simbolik dipakai untuk menarik perhatian publik dan menekan pemerintah agar lebih responsif. Namun, mereka juga mengingatkan bahwa tanpa dukungan massa yang luas, aksi semacam ini berisiko menjadi aksi simbolis belaka.
Ke depan, aliansi mahasiswa berjanji akan melanjutkan kampanye melalui jaringan media sosial dan pertemuan komunitas di berbagai kota, dengan harapan pemerintah akhirnya memberi respons yang konstruktif.







