Frankenstein45.Com – 01 Juli 2026 | Gas radon sering disebut-sebut sebagai indikator potensial sebelum terjadinya gempa bumi. Namun, sejauh mana keabsahan klaim tersebut di Indonesia masih menjadi pertanyaan. Daryono, peneliti senior di Ikatan Ahli Bumi Indonesia (IABI), memberikan penjelasan terperinci mengenai peran radon dalam upaya prediksi gempa.
Bagaimana radon terkait dengan aktivitas tektonik?
Radon adalah gas radioaktif yang terbentuk dari peluruhan uranium di dalam batuan. Ketika tekanan pada lapisan batuan meningkat, misalnya akibat pergerakan lempeng tektonik, pori‑pori batuan dapat terbuka sehingga radon yang terperangkap ikut keluar ke permukaan. Peningkatan konsentrasi radon di tanah atau air tanah kemudian dapat terdeteksi dengan sensor khusus.
Temuan dan pengalaman di Indonesia
Daryono menjelaskan bahwa selama beberapa tahun terakhir timnya telah memasang jaringan sensor radon di beberapa daerah rawan gempa, antara lain di Pulau Jawa, Sumatera, dan Sulawesi. Data yang terkumpul menunjukkan pola peningkatan radon menjelang gempa magnitude 5,0 ke atas, namun tidak selalu konsisten. “Ada kasus dimana radon meningkat tajam sebelum gempa, namun ada pula kejadian di mana tidak ada perubahan signifikan,” kata Daryono.
Tantangan utama
- Variabilitas alamiah: Konsentrasi radon dipengaruhi oleh faktor geologi, kelembapan, dan suhu tanah, sehingga sulit memisahkan sinyal gempa dari noise latar.
- Distribusi sensor yang terbatas: Banyak wilayah Indonesia yang belum terjangkau jaringan monitoring, sehingga data tidak representatif secara nasional.
- Interpretasi data: Membutuhkan algoritma statistik yang canggih untuk mengidentifikasi tren yang signifikan tanpa menghasilkan alarm palsu.
Prospek ke depan
Ia menekankan pentingnya kolaborasi antar lembaga, baik pemerintah, universitas, maupun komunitas internasional, untuk memperluas jaringan sensor dan mengembangkan model prediksi yang lebih robust.




