BI Rate Naik Jadi 5,25 Persen, Ekonom Wanti-wanti Risiko Gagal Bayar Kredit Meningkat
BI Rate Naik Jadi 5,25 Persen, Ekonom Wanti-wanti Risiko Gagal Bayar Kredit Meningkat

BI Rate Naik Jadi 5,25 Persen, Ekonom Wanti-wanti Risiko Gagal Bayar Kredit Meningkat

Frankenstein45.Com – 22 Mei 2026 | Bank Indonesia (BI) pada Rapat Kebijakan Moneter (RKM) terakhir menaikkan suku bunga acuannya menjadi 5,25 persen, naik 25 basis poin dari tingkat sebelumnya. Kenaikan ini merupakan respons terhadap tekanan inflasi yang masih berada di atas target dan kebutuhan untuk menstabilkan nilai tukar.

Para ekonom memperingatkan bahwa peningkatan suku bunga dapat memperbesar risiko gagal bayar kredit, terutama bagi sektor rumah tangga dan usaha kecil menengah (UKM) yang sudah berada di ambang batas kemampuan membayar. Dengan biaya pinjaman yang lebih tinggi, beban pembayaran cicilan menjadi lebih berat, yang pada gilirannya dapat memperlambat pertumbuhan kredit secara keseluruhan.

  • Pengaruh pada rumah tangga: Beban bunga kredit konsumen, seperti KPR dan kredit kendaraan, akan naik, mengurangi daya beli.
  • Pengaruh pada UKM: Suku bunga pinjaman modal kerja naik, menurunkan margin keuntungan dan meningkatkan kemungkinan keterlambatan pembayaran.
  • Pengaruh pada sektor perbankan: Kualitas aset dapat terdampak jika tingkat gagal bayar meningkat, memaksa bank untuk meningkatkan provisi.

Ekonom juga menekankan pentingnya kebijakan fiskal yang mendukung, termasuk penguatan jaminan sosial dan program restrukturisasi kredit, untuk mengurangi tekanan pada debitur. Langkah-langkah tersebut dapat membantu menjaga stabilitas sistem keuangan sambil tetap mengendalikan inflasi.

Secara makro, kenaikan BI Rate diperkirakan akan menurunkan laju pertumbuhan kredit tahunan menjadi sekitar 6-7 persen, dibandingkan dengan proyeksi sebelumnya yang berada di kisaran 9-10 persen. Hal ini sejalan dengan tujuan Bank Indonesia untuk menurunkan tekanan inflasi menjadi di bawah 3,5 persen pada akhir tahun.

Para pengamat menyarankan agar konsumen dan pelaku usaha mengevaluasi kembali rencana pembiayaan mereka, mempertimbangkan suku bunga tetap, atau mempercepat pelunasan pinjaman sebelum suku bunga lebih tinggi lagi. Kewaspadaan dan penyesuaian strategi keuangan menjadi kunci untuk menghindari peningkatan risiko gagal bayar di tengah kondisi moneter yang lebih ketat.