Bitcoin vs Emas: Pilihan Safe‑Haven di Tengah Ketegangan US‑Iran Mengguncang Pasar Global
Bitcoin vs Emas: Pilihan Safe‑Haven di Tengah Ketegangan US‑Iran Mengguncang Pasar Global

Bitcoin vs Emas: Pilihan Safe‑Haven di Tengah Ketegangan US‑Iran Mengguncang Pasar Global

Frankenstein45.Com – 18 April 2026 | Pertarungan geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran pada akhir Februari 2026 menimbulkan keguncangan besar di pasar keuangan dunia. Konflik yang memicu penutupan sementara Selat Hormuz—jalur pelayaran utama minyak dunia—memaksa para investor mencari aset perlindungan nilai. Dalam konteks ini, Bitcoin (BTC/USD) dan emas muncul sebagai dua kandidat utama, namun perilaku masing‑masing berbeda secara signifikan.

Reaksi Awal Pasar Terhadap Konflik

Segera setelah serangan udara AS dan Israel terhadap target di Iran pada 28 Februari, nilai total kapitalisasi pasar kripto turun drastis. Data dari platform Capital.com menunjukkan lebih dari $128 miliar nilai pasar kripto hilang dalam hitungan jam, dengan Bitcoin meluncur dari sekitar $66.000 ke $63.000. Sementara itu, harga emas justru naik, mengukuhkan posisinya sebagai safe‑haven tradisional.

Pergerakan Bitcoin Selama Konflik

Berbeda dengan ekspektasi umum, para pedagang ritel tidak langsung beralih ke Bitcoin. Aktivitas perdagangan justru berpindah ke minyak, dimana volume unik trader naik 328 % dan volume perdagangan melonjak 1.042 % dibandingkan rata‑rata sebelum konflik. Bitcoin mengalami penurunan partisipasi sebesar 9 % di bawah level pra‑konflik.

Namun, dalam fase pemulihan, Bitcoin menunjukkan kemampuan rebound yang kuat. Pada akhir periode konflik, harga Bitcoin kembali naik hampir 20 % dari level terendahnya, bahkan melampaui kinerja ekuitas saham selama periode yang sama. Faktor yang mendukung pemulihan ini antara lain peningkatan diskusi tentang peran Bitcoin sebagai sistem keuangan alternatif dan laporan bahwa Iran sempat meminta pembayaran dalam Bitcoin selama penutupan Selat Hormuz.

Emas Tetap Menjadi Pilihan Utama

Emas mempertahankan peranannya sebagai aset refugium. Selama gejolak, harga emas terus naik, mencerminkan kepercayaan investor tradisional pada logam mulia sebagai penyimpan nilai. Analisis senior pasar, Kyle Rodda, menekankan bahwa Bitcoin berada di “arus silang” yang signifikan—didorong oleh inflasi, sanksi, dan sentimen risiko—sementara emas tetap stabil dalam menghadapi tekanan geopolitik.

Dampak pada Saham Kripto dan Stablecoin

Sementara Bitcoin dan emas berkompetisi dalam ranah safe‑haven, saham perusahaan kripto mengalami lonjakan nilai setelah berita pembukaan kembali Selat Hormuz. Saham-saham tersebut mendapat dorongan positif, namun stablecoin tampak tidak terpengaruh secara signifikan, menandakan perbedaan persepsi risiko di antara aset kripto yang berbeda.

Analisis Risiko dan Prospek Ke Depan

Data terbaru mengindikasikan bahwa institusi semakin memengaruhi volatilitas Bitcoin, menjadikannya lebih sensitif terhadap pergerakan “risk‑off” yang biasanya memengaruhi ekuitas. Meskipun demikian, kemampuan Bitcoin untuk pulih dan bahkan mengungguli saham selama konflik menunjukkan potensi sebagai alternatif diversifikasi yang menarik bagi investor yang bersedia menanggung volatilitas tinggi.

Di sisi lain, harga minyak mentah mengalami lonjakan signifikan akibat gangguan di Selat Hormuz, menambah dimensi baru pada alokasi aset selama krisis energi. Investor yang menargetkan perlindungan nilai kini dihadapkan pada pilihan antara tiga kelas aset utama: emas, Bitcoin, dan minyak.

Kesimpulannya, meskipun Bitcoin berhasil menampilkan pemulihan yang mengesankan dan bahkan melampaui ekuitas dalam jangka menengah, emas tetap menjadi pilihan utama bagi mayoritas pelaku pasar yang mencari stabilitas. Bitcoin, dengan partisipasi ritel yang menurun dan sensitivitas tinggi terhadap sentimen risk‑off, berada pada posisi yang lebih kompleks, memerlukan penilaian risiko yang cermat sebelum dijadikan aset safe‑haven utama.