Frankenstein45.Com – 18 April 2026 | Tim Borneo FC Samarinda menghadapi serangkaian rintangan logistik menjelang laga pekan ke-28 Liga Super 2025/2026 melawan PSM Makassar di Stadion Gelora BJ Habibie, Parepare. Masalah utama bermula di Surabaya, di mana tiket pesawat menuju Kalimantan Timur sangat terbatas. Sebagai akibatnya, rombongan pemain, staf, serta 100 suporter Pusamania terpaksa menunggu beberapa hari sebelum dapat melanjutkan perjalanan ke Samarinda, kemudian melanjutkan ke Parepare.
Penumpukan Tiket di Surabaya Menyebabkan Keterlambatan
Setelah mengakhiri sesi latihan di Samarinda, Borneo FC dijadwalkan berangkat ke Surabaya untuk penerbangan lanjutan ke Makassar. Namun, pada awal pekan ini maskapai penerbangan menurunkan jumlah penerbangan akibat tingginya permintaan dan ketersediaan armada yang terbatas. Tiket pesawat menjadi komoditas langka, bahkan untuk penerbangan domestik yang biasanya mudah diakses. Beberapa anggota tim melaporkan harus menunggu hingga malam hari untuk mendapatkan konfirmasi kursi, sementara suporter Pusamania yang telah menyiapkan dana pribadi juga mengalami kebingungan.
Situasi ini mengingatkan pada kasus Persiba Balikpapan pada musim lalu, ketika tim tersebut terpaksa membatalkan pertandingan kandang karena tidak dapat mengamankan tiket pulang-pergi. Borneo FC secara tegas menyatakan bahwa mereka tidak ingin mengulangi nasib yang sama, mengingat konsekuensi poin penting di papan atas klasemen.
Strategi Mengatasi Krisis Tiket
Manajemen Borneo FC berkoordinasi dengan agen perjalanan lokal di Surabaya untuk mencari alternatif penerbangan charter. Setelah bernegosiasi selama lebih dari 12 jam, tim berhasil mengamankan dua pesawat tambahan yang menampung seluruh rombongan. Proses ini memakan biaya tambahan yang signifikan, namun dipandang sebagai investasi penting demi kelancaran kompetisi.
Selain itu, Ketua Pusamania, Adho, mengorganisir penggalangan dana internal untuk menutupi selisih biaya tiket bagi para suporter. Dengan semangat solidaritas, sekitar seratus anggota Pusamania menyiapkan dana pribadi, sekaligus mengatur akomodasi di Parepare secara mandiri.
Perjalanan ke Parepare dan Kebijakan Tanpa Atribut
Setelah berhasil meninggalkan Surabaya, rombongan Borneo FC dan Pusamania menumpang kapal laut KM Adhitya menuju Pelabuhan Parepare. Kapal tiba pada pukul 08.35 WITA, disambut oleh suporter PSM Makassar yang tergabung dalam kelompok The Maczman. Kedatangan tanpa atribut resmi menjadi catatan penting; regulasi liga melarang tim tamu menampilkan atribut di stadion kandang. Untuk mematuhi aturan, suporter Pusamania bersepakat tidak mengenakan warna tim atau bendera selama pertandingan, melainkan berbaur dengan suporter lokal.
Adho menjelaskan, “Kami datang tanpa atribut, namun semangat kami tetap menyala. Silaturahmi antar suporter tidak bisa dibatasi oleh regulasi, selama kami tidak menampilkan simbol klub secara terbuka.” Hal ini menciptakan suasana persahabatan di antara kedua kelompok suporter, meski tetap menahan antusiasme untuk mendukung tim masing-masing.
Harapan Borneo FC di Parepare
Posisi Borneo FC saat ini berada di urutan kedua klasemen dengan 60 poin, bersaing ketat dengan Persib Bandung untuk gelar juara. Kemenangan melawan PSM Makassar di kandang lawan sangat krusial; poin penuh dapat memperkuat peluang mereka menutup musim dengan gelar. Kepala Tim, Juku Eja, menekankan pentingnya memanfaatkan momentum meski mengalami gangguan logistik.
“Kami ingin menunjukkan bahwa tim ini mampu bangkit dari tantangan, baik di lapangan maupun di luar lapangan. Kami tidak ingin menjadi contoh buruk seperti Persiba yang terpuruk karena masalah perjalanan,” ujar Juku dalam konferensi pers singkat sebelum pertandingan.
Kesimpulan
Rangkaian peristiwa mulai dari tiket pesawat langka di Surabaya, upaya negosiasi penerbangan charter, hingga kebijakan tanpa atribut di Parepare menegaskan betapa kompleksnya persiapan sebuah laga sepakbola profesional. Borneo FC berhasil mengatasi hambatan tersebut dengan dukungan penuh dari suporter Pusamania, yang menolak menyerah meski harus menanggung biaya tambahan. Dengan semangat persatuan dan tekad untuk tidak mengulangi kegagalan Persiba, tim berambisi mengamankan tiga poin penting melawan PSM Makassar, sebuah langkah strategis untuk mempertahankan posisi teratas di Liga Super 2025/2026.




