Frankenstein45.Com – 25 Juni 2026 | Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) kembali menegaskan komitmennya dalam mengangkat komoditas perkebunan nasional, khususnya kakao, dengan memamerkan rangkaian produk turunan kakao pada ajang EastFood Indonesia 2026. Pameran yang berlangsung di Jakarta ini menjadi panggung strategis bagi BPDP untuk memperkenalkan inovasi nilai tambah kakao kepada pelaku industri, investor, serta konsumen domestik dan internasional.
Sejak peluncuran program “Unjuk Gigi”, BPDP berupaya memperkuat rantai nilai kakao melalui dukungan pembiayaan, pelatihan teknis, dan pemasaran. Pada edisi 2026, fokus utama diarahkan pada diversifikasi produk, mulai dari bahan baku industri makanan hingga produk kesehatan.
- Chocolate bar premium: Menggunakan biji kakao lokal dengan proses fermentasi dan pemanggangan yang dioptimalkan.
- Makanan fungsional: Granola, bar energi, dan minuman kesehatan yang diperkaya flavonoid kakao.
- Produk kosmetik: Krim wajah, sabun, dan serum yang memanfaatkan antioksidan alami kakao.
- Produk farmasi: Ekstrak kakao untuk suplemen penurunan tekanan darah dan peningkatan fungsi kognitif.
Selain menampilkan produk, BPDP juga mengadakan sesi dialog interaktif yang melibatkan petani kakao, pengusaha UMKM, serta perwakilan lembaga keuangan. Diskusi menyoroti tantangan distribusi, standar mutu, dan akses pasar global. Salah satu petani menekankan pentingnya pelatihan pasca panen, sementara perwakilan lembaga keuangan menegaskan kesiapan skema kredit berbasis hasil panen.
Data internal BPDP mengindikasikan bahwa nilai ekspor kakao Indonesia pada 2025 meningkat 12% dibandingkan tahun sebelumnya, didorong oleh peningkatan permintaan produk olahan. Dengan diversifikasi produk yang ditampilkan di EastFood, diharapkan angka tersebut akan terus naik, sekaligus membuka peluang kerja baru di sektor manufaktur makanan dan kosmetik.
Ke depan, BPDP berencana memperluas jaringan pemasaran digital dan mengintegrasikan teknologi blockchain untuk melacak asal usul biji kakao, menjamin transparansi bagi konsumen akhir. Langkah tersebut sejalan dengan strategi pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat inovasi kakao di Asia Tenggara.




