Frankenstein45.Com – 05 Mei 2026 | Washington – Komandan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), Laksamana Brad Cooper, pada Senin mengumumkan bahwa sebanyak 87 negara terdampak karena kapal-kapal netral terjebak di Teluk Persia akibat pembatasan navigasi di Selat Hormuz. Menurut Cooper, kapal-kapal tersebut tidak terlibat dalam konflik dan merupakan bagian dari upaya “Project Freedom” yang dicanangkan Presiden Donald Trump untuk membuka kembali jalur pelayaran vital itu.
Operasi yang diluncurkan pada pagi hari waktu Timur Tengah melibatkan lebih dari 15.000 personel militer, dua kapal perusak berpeluru kendali, lebih dari seratus pesawat berbasis darat dan laut, serta platform nirawak multi‑domain. CENTCOM menegaskan bahwa semua aset ini ditujukan untuk menjamin kebebasan navigasi serta melindungi kapal dagang yang berada di zona konflik.
Iran Mengklaim Penindasan, CENTCOM Membantah
Media resmi Iran (IRIB) melaporkan bahwa Angkatan Laut Iran berhasil mencegah kapal perang Amerika melintas dengan menembakkan dua rudal. Klaim tersebut kemudian dibantah oleh CENTCOM yang menyatakan tidak ada kapal AS yang terkena serangan dan operasi tetap berjalan sesuai rencana. Presiden Trump sebelumnya memperingatkan bahwa Iran akan menghadapi konsekuensi berat jika menargetkan kapal AS di wilayah tersebut.
Kapal Tanker Iran (DERYA) Menembus Blokade AS
Pada hari yang sama, akun Twitter TankerTrackers.com melaporkan bahwa sebuah kapal tanker super‑besar berkelas VLCC bernama DERYA (IMO 9569700) berhasil melintasi Selat Lombok dan melanjutkan perjalanan ke perairan Kepulauan Riau. Kapal tersebut, yang dimiliki oleh perusahaan DERYA, sebelumnya berusaha mengirimkan sekitar 1,88 juta barel minyak mentah ke India pada pertengahan April. Upaya tersebut gagal karena adanya tekanan sanksi, namun kapal kembali bergerak setelah menembus blokade yang dipasang oleh Angkatan Laut AS.
Keberhasilan DERYA menembus kontrol AS menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas “Project Freedom”. Meskipun militer Amerika mengklaim telah mengawasi seluruh jalur, data pelacakan menunjukkan bahwa sejumlah kapal tanker Iran lainnya berhasil mencapai tujuan, ada pula yang dipaksa berbalik arah atau disita.
Implikasi Ekonomi dan Keamanan Global
Selat Hormuz menyumbang hampir satu per lima pasokan minyak dan gas dunia. Gangguan yang berkepanjangan dapat memicu lonjakan harga energi, memperparah inflasi, dan menimbulkan ketidakpastian di pasar keuangan internasional. Analisis para pakar energi menunjukkan bahwa setiap penutupan parsial jalur tersebut dapat menambah tekanan pada harga minyak mentah sebesar 5‑7 persen.
Di samping itu, ketegangan di kawasan Teluk Persia menambah beban diplomatik bagi negara‑negara yang bergantung pada pasokan energi Timur Tengah. Negara‑negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, memantau situasi dengan cermat karena arus perdagangan minyak melalui Selat Malaka dan Selat Lombok dapat terpengaruh secara tidak langsung.
Respons Internasional
- Uni Eropa mengeluarkan pernyataan bersama yang menyerukan semua pihak untuk menghormati kebebasan navigasi dan menolak penggunaan kekuatan militer yang dapat memperburuk situasi.
- ASEAN menegaskan pentingnya menjaga keamanan rantai pasok global serta mendesak dialog multilateral untuk meredakan ketegangan.
- China, sebagai salah satu konsumen minyak terbesar, menyatakan keprihatinannya atas potensi gangguan pasokan dan mengajak semua pihak untuk menghindari eskalasi militer.
Sejumlah analis militer menilai bahwa operasi “Project Freedom” bersifat selektif, menargetkan kapal-kapal yang dianggap melanggar larangan Iran, namun tidak mampu menghentikan semua aliran minyak. Keberhasilan tanker DERYA menembus blokade memperkuat pandangan tersebut.
Dengan situasi yang masih dinamis, pusat perhatian kini beralih pada langkah selanjutnya yang akan diambil oleh CENTCOM serta respons Iran dan sekutu-sekutunya. Apakah Amerika Serikat akan meningkatkan tekanan militer, ataukah akan membuka jalur secara lebih luas demi kepentingan ekonomi global, masih menjadi pertanyaan besar.
Kesimpulannya, klaim blokade selektif oleh CENTCOM masih dipertanyakan oleh fakta di lapangan, sementara kapal tanker yang berhasil menembus kontrol menandakan adanya celah dalam strategi militer AS. Pengawasan internasional dan diplomasi tetap menjadi faktor kunci dalam menstabilkan pasar energi dan memastikan kelancaran perdagangan maritim di wilayah yang sangat strategis ini.




