CEO Toshihiro Mibe Guncang Honda: Dari Kerugian Besar hingga Kolaborasi Sony
CEO Toshihiro Mibe Guncang Honda: Dari Kerugian Besar hingga Kolaborasi Sony

CEO Toshihiro Mibe Guncang Honda: Dari Kerugian Besar hingga Kolaborasi Sony

Frankenstein45.Com – 19 Mei 2026 | Honda Motor Co. mencatat kerugian tahunan pertama sejak terdaftar di Bursa pada 1957, mencerminkan dampak strategi kendaraan listrik (EV) yang gagal. CEO Toshihiro Mibe mengakui kerugian sebesar 414,3 miliar yen, sebagian besar berasal dari biaya restrukturisasi EV yang mencapai lebih dari 9 miliar dolar AS.

Kerugian Rekor dan Penyebabnya

Kerugian tersebut dipicu oleh penurunan permintaan EV di pasar utama, terutama Amerika Serikat, di mana kebijakan lingkungan yang semula mendukung EV mengalami penurunan drastis. Mibe mencontohkan bahwa perubahan kebijakan di bawah pemerintahan Donald Trump menghapus insentif dan kredit pajak EV, mengakibatkan penurunan penjualan yang signifikan.

Selain faktor regulasi, persaingan dari produsen EV China yang menawarkan model berbiaya lebih rendah juga menambah tekanan pada penjualan Honda di Asia. Akibatnya, biaya penulisan kembali (write‑down) atas investasi EV mencapai lebih dari satu triliun yen.

Strategi Baru: Fokus pada Hybrid dan Motor

Untuk mengembalikan profitabilitas, Honda beralih kembali ke segmen paling menguntungkan: sepeda motor dan kendaraan hybrid. Penjualan motor global naik 20 % menjadi 3,4 juta unit, memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan. Pada tahun 2027, perusahaan berencana meluncurkan 15 model hybrid baru, termasuk kembali menghidupkan kembali model Prelude dalam versi hybrid di pasar Australia.

Mibe menegaskan komitmen Honda terhadap netralitas karbon pada 2050, namun menekankan bahwa pendekatan multisaluran—EV, hybrid, bahan bakar netral karbon, dan teknologi offset—akan menjadi jalan tengah.

Kolaborasi dengan Sony: Joint Venture EV

Pada 2024, Honda menandatangani kesepakatan dengan Sony Group untuk membentuk joint venture yang menargetkan peluncuran mobil listrik pada 2025. Mibe menyebut kolaborasi ini sebagai “reaksi kimia” yang dapat menghasilkan nilai tak terduga, menggabungkan keahlian mobilitas Honda dengan teknologi gambar, jaringan, dan hiburan Sony. Meskipun Honda terus menjalankan program EV internalnya, proyek bersama ini akan memanfaatkan pabrik Honda untuk produksi, sementara Sony akan mengembangkan platform layanan mobilitas.

Kerjasama ini mencerminkan perubahan paradigma di industri otomotif Jepang, di mana perusahaan tradisional kini harus mengintegrasikan keahlian elektronik untuk bersaing dengan pemain baru seperti Tesla.

Gagalnya Rencana Merger dengan Nissan

Pada awal 2024, Honda dan Nissan mengumumkan rencana integrasi manajemen yang berpotensi menciptakan grup otomotif terbesar ketiga di dunia. Namun, perbedaan pandangan mengenai struktur kepemilikan—Nissan menolak menjadi anak perusahaan penuh Honda—menyebabkan pembatalan kesepakatan pada Februari. Mibe menegaskan bahwa Honda tidak akan melakukan tawaran pengambilalihan paksa dan tetap mengutamakan kerjasama teknologi.

Meski merger tidak terwujud, kedua perusahaan berjanji melanjutkan aliansi dalam bidang teknologi untuk menciptakan sinergi skala ekonomi.

Pandangan Masa Depan Honda di Bawah Kepemimpinan Mibe

Mibe menutup pernyataan dengan keyakinan bahwa Honda akan kembali ke jalur pertumbuhan melalui diversifikasi produk, peningkatan penjualan motor, dan pengembangan hybrid yang lebih cepat. Ia menambahkan bahwa riset baterai EV tetap menjadi prioritas, meski fokus jangka pendek bergeser ke hybrid dan mesin bensin konvensional yang masih relevan di banyak pasar.

Dengan menyeimbangkan investasi pada teknologi baru dan memanfaatkan kekuatan tradisional, Honda berupaya mengembalikan kepercayaan investor serta memastikan kelangsungan bisnis di era transisi energi.