Frankenstein45.Com – 07 Mei 2026 | Beijing menegaskan alasan di balik pemakaian hak veto pada resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang berupaya membuka kembali Selat Hormuz. Keputusan tersebut muncul di tengah tekanan intensif dari Amerika Serikat yang menuntut China menggunakan pengaruh diplomatiknya untuk memaksa Iran membuka jalur perairan strategis itu.
Latar Belakang Konflik di Selat Hormuz
Selat Hormuz menjadi titik krusial bagi perdagangan minyak dunia, mengalirkan sekitar 20 persen kebutuhan minyak mentah global. Penutupan atau pembatasan lalu lintas di selat tersebut dapat menimbulkan goncangan ekonomi luas, terutama bagi negara-negara Asia yang bergantung pada impor energi dari Timur Tengah.
Iran, yang menguasai sebagian besar tepi selat, telah menutup atau mengancam akan menutup jalur itu sebagai bentuk tekanan politik. Amerika Serikat, bersama sekutu‑sekutunya di kawasan Teluk, mengajukan resolusi PBB yang menuntut Iran menghentikan penutupan, mengungkap lokasi ranjau laut, serta menahan tarif ilegal. Resolusi tersebut juga menyertakan ancaman sanksi jika Tehran tidak mematuhi.
Veto China dan Rusia: Argumen Kewajaran
Ketika resolusi tersebut diproses di Dewan Keamanan, China dan Rusia menolak dengan hak veto masing‑masing. Kedua negara menilai teks resolusi terlalu memihak kepada Amerika Serikat dan Israel, serta mengabaikan peran mereka dalam memicu ketegangan. China menegaskan bahwa resolusi tersebut “terlalu berlebihan” dan tidak mencakup tuduhan serupa terhadap AS‑Israel yang dianggap menjadi pemicu konflik.
Dalam pernyataannya, China menyoroti dampak ekonomi domestik yang signifikan. Sekitar setengah minyak mentah dan hampir sepertiga gas alam cair China bersumber dari Timur Tengah. Penutupan Selat Hormuz langsung mengancam kelancaran pasokan energi ke negara terpadat dunia, yang pada gilirannya dapat mengguncang stabilitas ekonomi domestik dan global.
Tekanan Diplomatik Amerika Serikat
Menjelang pertemuan puncak antara Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping di Beijing, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio secara terbuka meminta Beijing menekan Iran lewat kunjungan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Rubio menyatakan harapannya China “memberitahunya apa yang perlu dia dengar”. Ia menambahkan bahwa China merasakan dampak lebih parah daripada Amerika Serikat akibat penutupan Selat Hormuz.
Selain desakan verbal, Washington berupaya meyakinkan Beijing untuk abstain dari pemakaian veto. Upaya tersebut melibatkan komunikasi tingkat tinggi dan penawaran konsesi diplomatik, termasuk kemungkinan dukungan terhadap agenda Iran dalam pertemuan bilateral Trump‑Xi.
Strategi China di Balik Veto
Menurut diplomat yang tidak disebutkan namanya, Beijing menggunakan pengaruhnya tidak hanya untuk menolak resolusi, tetapi juga untuk menengahi gencatan senjata antara Iran dan sekutu‑sekutunya. China berkoordinasi dengan Pakistan serta negara‑negara lain di kawasan untuk memfasilitasi pembicaraan damai, dengan tujuan menjaga stabilitas wilayah dan melindungi kepentingan energi.
China menganggap bahwa penyelesaian melalui dialog dan mekanisme multilateral lebih efektif dibandingkan resolusi yang mengandung unsur konfrontatif. Dengan menolak teks yang tidak seimbang, Beijing berharap dapat menegosiasikan versi yang lebih moderat, yang mengakui hak semua pihak untuk melindungi kapal mereka tanpa menyinggung tindakan AS dan sekutunya.
Dampak Veto Terhadap Prospek Resolusi
Veto China dan Rusia menunda proses pengesahan resolusi, memaksa Amerika Serikat dan sekutu‑sekutunya menyiapkan draf baru yang lebih “halus”. Versi revisi menghapus bahasa yang mengizinkan penggunaan kekuatan militer dan menekankan sanksi ekonomi sebagai alternatif. Duta Besar AS Mike Waltz menyatakan keyakinannya bahwa draf tersebut dapat lolos tanpa memicu veto, asalkan tidak ada penyebutan langsung yang menuduh Iran secara eksklusif.
Namun, keberhasilan draf baru masih bergantung pada dinamika politik internal PBB dan kesiapan China untuk berkompromi. Jika Beijing tetap berpegang pada prinsip non‑intervensi dan menuntut keseimbangan dalam teks, proses diplomatik dapat memakan waktu lebih lama, memperpanjang ketidakpastian navigasi di Selat Hormuz.
Secara keseluruhan, veto China mencerminkan kepentingan strategis dalam menjaga aliran energi, menghindari konfrontasi langsung, dan menegakkan peran sebagai mediator regional. Sementara Amerika Serikat berupaya menekan Beijing untuk berperan lebih aktif, keputusan Beijing menegaskan bahwa kebijakan luar negeri China masih berlandaskan pada keseimbangan antara kepentingan ekonomi dan stabilitas geopolitik.




