China Perketat Aturan Daur Ulang Baterai Lithium Kendaraan Listrik
China Perketat Aturan Daur Ulang Baterai Lithium Kendaraan Listrik

China Perketat Aturan Daur Ulang Baterai Lithium Kendaraan Listrik

Frankenstein45.Com – 06 April 2026 | Pemerintah China mengeluarkan regulasi baru yang memperketat standar daur ulang baterai lithium untuk kendaraan listrik (EV). Kebijakan ini dikeluarkan oleh Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi (MIIT) bersama All-China Federation of Supply and Demand, dengan tujuan meningkatkan efisiensi pemrosesan limbah, mengurangi pencemaran, dan memastikan ketersediaan bahan baku kritis.

Beberapa poin utama regulasi tersebut antara lain:

  • Setiap produsen EV wajib mengimplementasikan program pengembalian baterai usang kepada fasilitas daur ulang yang telah terakreditasi.
  • Fasilitas daur ulang harus memenuhi standar lingkungan yang lebih tinggi, termasuk pengawasan emisi logam berat dan limbah cair.
  • Penggunaan kembali material seperti nikel, kobalt, dan litium dari baterai bekas diwajibkan mencapai minimal 70% dari total bahan baku baru.
  • Pelaporan tahunan tentang volume baterai yang diproses, tingkat pemulihan material, dan dampak lingkungan harus diserahkan ke otoritas terkait.
  • Perusahaan yang melanggar ketentuan dapat dikenai denda hingga 5% dari pendapatan tahunan atau pencabutan izin produksi.

Regulasi ini mulai berlaku pada kuartal pertama tahun 2025, dengan fase transisi selama 12 bulan bagi produsen dan penyedia layanan daur ulang untuk menyesuaikan infrastruktur dan prosedur operasional.

Industri otomotif China menyambut langkah ini dengan campuran antusiasme dan kekhawatiran. Di satu sisi, standar yang lebih ketat diyakini akan mendorong inovasi dalam teknologi daur ulang dan mengurangi ketergantungan pada impor bahan baku kritis. Di sisi lain, beberapa produsen kecil mengkhawatirkan biaya tambahan untuk mematuhi persyaratan baru.

Pengamat pasar memperkirakan bahwa kebijakan ini dapat menambah nilai pasar sektor daur ulang baterai China hingga US$15 miliar dalam lima tahun ke depan, sekaligus meningkatkan posisi negara sebagai pemimpin global dalam rantai pasok kendaraan listrik yang berkelanjutan.