Frankenstein45.Com – 20 April 2026 | Delegasi lintas sektor dari Indonesia resmi berangkat menuju Brussel, Belgia pada hari Ahad, 19 April 2026, dengan misi utama memecahkan blokade kemanusiaan yang menimpa Jalur Gaza. Keberangkatan ini diprakarsai oleh Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), sebuah inisiatif yang menggabungkan peran organisasi non‑pemerintah, akademisi, dan pelaku bisnis dalam upaya menyalurkan bantuan kemanusiaan.
Blokade yang diberlakukan sejak 2023 telah memperparah krisis pangan, kesehatan, dan infrastruktur di Gaza. Delegasi Indonesia bertujuan menjalin dialog dengan pemerintah Belgia serta lembaga‑lembaga Uni Eropa untuk membuka jalur bantuan yang aman dan berkelanjutan.
- Menjalin pertemuan dengan anggota Parlemen Belgia yang memiliki kepedulian terhadap isu Timur Tengah.
- Melakukan lobi kepada Komisi Urusan Luar Negeri Uni Eropa mengenai pencabutan sanksi yang menghambat aliran bantuan.
- Menyampaikan data kebutuhan kemanusiaan Gaza yang terverifikasi oleh tim riset GPCI.
- Mengusulkan pembentukan koalisi internasional yang dapat menyalurkan bantuan lewat jalur laut dan udara.
Anggota delegasi terdiri dari perwakilan lembaga bantuan, akademisi bidang hubungan internasional, serta pebisnis yang berkomitmen pada tanggung jawab sosial. Berikut adalah susunan singkat delegasi:
| Nama | Institusi | Peran |
|---|---|---|
| Ahmad Rizal | GPCI | Koordinator |
| Dr. Siti Mahmudah | Universitas Indonesia | Peneliti Kebijakan |
| Rina Kusuma | Yayasan Peduli Gaza | Perwakilan LSM |
| Budi Santoso | PT. Mitra Kemanusiaan | Pengusaha Sosial |
Koordinator GPCI, Ahmad Rizal, menegaskan bahwa keberhasilan lobi ini tidak hanya bergantung pada tekanan politik, melainkan juga pada solidaritas masyarakat internasional. “Kami berharap Belgia dapat menjadi pintu gerbang pertama bagi bantuan yang masuk ke Gaza, serta menjadi contoh bagi negara lain dalam menanggapi krisis kemanusiaan,” ujar Rizal dalam konferensi pers sebelum keberangkatan.
Jika lobi berhasil, diharapkan aliran bantuan medis, pangan, dan bahan bangunan dapat kembali mengalir melalui jalur darat, laut, atau udara ke wilayah Gaza. Langkah ini sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai negara yang aktif dalam diplomasi kemanusiaan.
Selanjutnya, delegasi akan mengadakan serangkaian pertemuan selama tiga hari di Brussel, termasuk sesi bersama kedutaan Indonesia, serta kunjungan ke lembaga‑lembaga internasional yang berkaitan dengan hak asasi manusia dan bantuan kemanusiaan.




