Frankenstein45.Com – 09 Mei 2026 | China kini melangkah lebih jauh dalam pengembangan energi bersih dengan mengizinkan pemilik kendaraan listrik (EV) untuk menjual kembali listrik yang tersimpan di baterai mereka ke jaringan listrik nasional. Kebijakan ini menandai penerapan skala besar teknologi vehicle‑to‑grid (V2G) yang sebelumnya hanya diuji coba di laboratorium.
Teknologi V2G memungkinkan mobil listrik tidak hanya mengisi daya, tetapi juga mengalirkan listrik kembali ke jaringan ketika kebutuhan pasokan meningkat. Proses ini mengandalkan charger pintar yang dapat berkomunikasi dua arah dengan sistem manajemen energi jaringan, serta inverter bidirectional yang mengubah arus DC dari baterai menjadi AC yang cocok untuk jaringan.
Pemerintah China telah menetapkan standar teknis dan tarif insentif untuk mendukung skema ini. Beberapa kota percontohan, seperti Shanghai, Shenzhen, dan Chengdu, sudah meluncurkan program pilot yang melibatkan ribuan kendaraan pribadi serta armada taksi listrik. Pemilik kendaraan yang berpartisipasi dapat memperoleh pendapatan tambahan berupa tarif jual listrik yang ditetapkan oleh operator jaringan.
Manfaat utama V2G meliputi:
- Peningkatan stabilitas jaringan pada jam puncak beban dengan memanfaatkan daya cadangan baterai.
- Mempercepat integrasi energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin yang sifatnya intermiten.
- Memberikan sumber pendapatan baru bagi pemilik EV, mengurangi total biaya kepemilikan.
- Mengoptimalkan utilisasi baterai selama siklus hidupnya.
Untuk mewujudkan manfaat tersebut, diperlukan infrastruktur khusus, antara lain charger pintar dengan kemampuan komunikasi IEC 61850, sistem manajemen energi terpusat, dan mekanisme tarif yang adil. Pemerintah juga tengah mengkaji dampak potensial pada degradasi baterai, memastikan bahwa siklus pengosongan‑pengisian tidak memperpendek umur sel secara signifikan.
Walaupun tantangan teknis dan ekonomi masih ada, prospek V2G di China terlihat menjanjikan. Analisis pasar memperkirakan bahwa pada 2030, lebih dari 30% kendaraan listrik di negara tersebut akan terhubung dengan jaringan V2G, memberikan kontribusi signifikan terhadap target net‑zero emission China.
Dengan langkah ini, China tidak hanya memperkuat keamanan energi domestik, tetapi juga membuka peluang model bisnis baru bagi industri otomotif, penyedia layanan energi, dan konsumen rumah tangga.




