Frankenstein45.Com – 04 Juni 2026 | Dalam upaya memperlambat penyebaran tuberkulosis (TBC) di wilayah Kota Malang, Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat meluncurkan program screening mobile yang menargetkan masyarakat di area dengan risiko tinggi. Program ini merupakan bagian dari strategi pemerintah daerah untuk meningkatkan deteksi dini dan pengobatan tepat waktu, sehingga dapat menurunkan angka penularan.
Program screening mobile dilengkapi dengan peralatan medis modern, termasuk mesin Xpert MTB/RIF untuk deteksi cepat bakteri Mycobacterium tuberculosis serta fasilitas pemeriksaan dahak dan rontgen portable. Tim medis yang terdiri dari dokter, perawat, dan petugas laboratorium akan berkeliling ke sejumlah titik strategis, antara lain:
- Pasar tradisional dan pasar modern
- Pusat-pusat perbelanjaan
- Kompleks perumahan padat penduduk
- Tempat kerja industri ringan
- Institusi pendidikan menengah
Jadwal kunjungan akan diumumkan melalui media sosial resmi Dinkes dan papan pengumuman di masing‑masing lokasi. Masyarakat yang berusia 15 tahun ke atas dan memiliki gejala seperti batuk berlangsung lebih dari dua minggu, demam, atau penurunan berat badan disarankan untuk mengikuti skrining.
Berikut tahapan proses skrining mobile:
- Pendaftaran singkat dengan identitas dasar.
- Pemeriksaan symptomatik oleh petugas kesehatan.
- Pengambilan sampel dahak bila diperlukan.
- Pemeriksaan cepat Xpert MTB/RIF (hasil dalam 2 jam).
- Jika hasil positif, pasien langsung diarahkan ke fasilitas kesehatan untuk evaluasi lanjutan dan pemberian terapi.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang, Dr. Hendra Wijaya, menyatakan, “Deteksi dini melalui screening mobile dapat memotong rantai penularan TBC. Kami berharap masyarakat dapat memanfaatkan layanan ini secara maksimal demi kesehatan bersama.”
Data terakhir dari Dinkes menunjukkan terdapat lebih dari 1.200 kasus TBC terkonfirmasi di Kota Malang pada tahun 2023, dengan tingkat kekambuhan mencapai 12 %. Dengan meningkatkan cakupan skrining, diharapkan angka tersebut dapat diturunkan secara signifikan dalam dua tahun ke depan.
Selain layanan skrining, Dinkes juga mengadakan penyuluhan mengenai pentingnya pola hidup sehat, nutrisi yang cukup, serta kepatuhan dalam menjalani terapi anti‑tuberkulosis (ATT). Masyarakat diimbau untuk tidak menunda pemeriksaan bila mengalami gejala yang mencurigakan.
Program ini didukung oleh anggaran khusus yang dialokasikan dalam APBD 2024 serta kerjasama dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) bidang kesehatan. Diharapkan, melalui kolaborasi lintas sektor, upaya penanggulangan TBC di Kota Malang dapat menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia.




