DPR Kritik Prabowo Usaha Tenangkan Publik atas Penurunan Nilai Rupiah, Desak BI Kendalikan
DPR Kritik Prabowo Usaha Tenangkan Publik atas Penurunan Nilai Rupiah, Desak BI Kendalikan

DPR Kritik Prabowo Usaha Tenangkan Publik atas Penurunan Nilai Rupiah, Desak BI Kendalikan

Frankenstein45.Com – 18 Mei 2026 | Komisi DPR menyampaikan keberatan terhadap pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menegaskan bahwa komentar mengenai melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ditujukan untuk menenangkan masyarakat. Anggota DPR menilai bahwa upaya “menenangkan” tersebut tidak cukup tanpa langkah konkrit dari otoritas moneter.

Dalam rapat komisi, sejumlah wakil mengingatkan pentingnya kebijakan yang bersifat struktural untuk mengatasi tekanan pada mata uang. Mereka menekankan bahwa peran Bank Indonesia (BI) sangat krusial dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan mengendalikan volatilitas pasar.

  • Permintaan kepada BI: DPR mendesak Bank Indonesia untuk memperkuat intervensi pasar, meningkatkan likuiditas, serta memastikan kebijakan suku bunga dan cadangan devisa selaras dengan kebutuhan stabilisasi rupiah.
  • Faktor penyebab melemahnya rupiah: Harga komoditas global yang turun, aliran modal keluar, serta ketidakpastian geopolitik menjadi faktor utama yang menekan nilai tukar.
  • Dampak terhadap masyarakat: Kenaikan harga barang impor, inflasi yang lebih tinggi, serta penurunan daya beli menjadi konsekuensi langsung bagi konsumen.

Presiden Prabowo menegaskan bahwa pemerintah terus memantau situasi dan siap mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi stabilitas ekonomi. Namun, DPR menambahkan bahwa pernyataan verbal saja tidak cukup; diperlukan kebijakan terukur yang dapat menurunkan risiko depresiasi lebih lanjut.

Bank Indonesia, dalam pernyataannya, menegaskan komitmen untuk menjaga stabilitas moneter melalui kebijakan yang transparan dan konsisten. Pihak BI juga menyoroti pentingnya koordinasi dengan kementerian keuangan serta lembaga terkait dalam rangka menanggulangi tekanan eksternal.

Para pengamat ekonomi menilai bahwa tekanan pada rupiah bersifat sementara, namun menekankan pentingnya reformasi struktural, peningkatan daya saing ekspor, dan pengelolaan utang publik untuk memperkuat posisi mata uang dalam jangka panjang.