Drama Penggantian Presiden FIGC: Legenda AC Milan Bawa Harapan, Siapa Saja Tiga Calon Utama?
Drama Penggantian Presiden FIGC: Legenda AC Milan Bawa Harapan, Siapa Saja Tiga Calon Utama?

Drama Penggantian Presiden FIGC: Legenda AC Milan Bawa Harapan, Siapa Saja Tiga Calon Utama?

Frankenstein45.Com – 12 April 2026 | Gabriele Gravina, yang telah menjadi figur sentral dalam pengembangan sepakbola Italia, memutuskan untuk mundur dari jabatan Presiden Federasi Sepakbola Italia (FIGC) meski tetap melanjutkan peran strategisnya di UEFA. Keputusan ini menimbulkan spekulasi luas mengenai siapa yang akan mengisi kepemimpinan tertinggi dalam federasi nasional yang sedang berada dalam fase transformasi. Tiga nama utama kini menonjol sebagai calon potensial, termasuk satu legenda AC Milan yang pernah meraih Ballon d’Or.

Gravina Tinggalkan Kursi, Tetap di UEFA

Setelah lima tahun menjabat, Gravina mengumumkan pengunduran dirinya dari FIGC pada akhir 2023. Keputusan itu diambil sebagai bagian dari upaya memperkuat fokusnya pada tugas-tugas strategis di UEFA, terutama dalam mengatur kompetisi internasional dan memperkuat kebijakan integritas olahraga. Meski mengundurkan diri, Gravina menegaskan komitmennya untuk terus mendukung reformasi struktural FIGC melalui posisi barunya di badan sepakbola Eropa.

Calon Pertama: Marco van Basten – Legenda AC Milan yang Memukau

Nama pertama yang paling banyak dibicarakan adalah Marco van Basten. Mantan penyerang asal Belanda ini menorehkan sejarah gemilang bersama AC Milan pada akhir 1980-an hingga awal 1990-an, meraih tiga kali penghargaan Ballon d’Or (1988, 1989, 1992). Selama kariernya, van Basten mencetak 125 gol dalam 202 penampilan Serie A, memimpin Milan meraih dua gelar Scudetto dan tiga trofi Liga Champions. Setelah mengakhiri kariernya karena cedera kronis, ia beralih ke dunia kepelatihan dan manajemen, termasuk peran sebagai direktur teknik di Ajax dan konsultan strategis di beberapa klub Eropa.

Para pengamat menilai bahwa pengalaman internasional van Basten, baik sebagai pemain maupun pelatih, dapat menjadi aset berharga bagi FIGF dalam menghadapi tantangan globalisasi sepakbola. Kemampuannya dalam mengelola hubungan lintas budaya, serta pemahaman mendalam tentang struktur klub elite, dianggap cocok untuk memimpin reformasi struktural yang diharapkan oleh para pemangku kepentingan Italia.

Calon Kedua: Alessandro D’Angelo – Mantan Pemain dan Administrator

Calon kedua adalah Alessandro D’Angelo, mantan gelandang tengah yang pernah mengemban tugas di tim nasional Italia pada era 1990-an. Setelah pensiun, D’Angelo meniti karier di bidang administrasi olahraga, menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Lega Serie A selama delapan tahun. Di posisi tersebut, ia dikenal berhasil mengoptimalkan pendapatan hak siar televisi dan memperkenalkan program pengembangan akademi muda yang menghasilkan talenta seperti Ciro Immobile dan Lorenzo Insigne.

Pengalaman D’Angelo dalam mengelola liga domestik yang kompetitif, serta jaringan luasnya dengan klub-klub Serie A, membuatnya menjadi kandidat kuat yang dapat menyeimbangkan kepentingan klub dengan visi nasional. Pendekatannya yang pragmatis dan fokus pada inovasi digital di bidang manajemen sepakbola dianggap dapat mempercepat modernisasi FIGC.

Calon Ketiga: Paolo Tabanelli – Ahli Kebijakan UEFA

Calon ketiga adalah Paolo Tabanelli, seorang eks-direktur UEFA yang mengawasi departemen kebijakan integritas dan fair play. Selama masa bakti di UEFA, Tabanelli terlibat dalam penyusunan regulasi anti-doping, serta memperkenalkan sistem VAR (Video Assistant Referee) di kompetisi klub Eropa. Ia juga memimpin proyek pengembangan infrastruktur stadion di negara-negara anggota UEFA, menekankan pentingnya standar keamanan dan kenyamanan penonton.

Keahlian Tabanelli dalam bidang regulasi internasional dan kemampuan bernegosiasi dengan federasi-federasi lain dapat menjadi nilai tambah bagi FIGC, terutama dalam upaya memperbaiki reputasi Italia di panggung global setelah serangkaian kontroversi terkait korupsi dan manipulasi hasil pertandingan.

Implikasi Politik dan Strategis

Pemilihan Presiden FIGC tidak hanya menjadi agenda internal federasi, melainkan juga menjadi sorotan politik nasional. Pemerintah Italia, melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga, menekankan pentingnya memilih sosok yang dapat meningkatkan transparansi, mengoptimalkan pendapatan komersial, serta memajukan program pengembangan pemain muda. Selain itu, tekanan dari sponsor utama seperti Adidas dan TIM (Telecom Italia) menuntut kepastian kebijakan yang mendukung pertumbuhan komersial jangka panjang.

Jika van Basten terpilih, ia diperkirakan akan memperkuat hubungan FIGC dengan klub-klub top Eropa, membuka peluang kerjasama akademi bersama, dan memperkenalkan standar pelatihan yang selaras dengan praktik terbaik internasional. Sementara D’Angelo dapat memperdalam integrasi digital, memanfaatkan data analytics untuk scouting dan manajemen tim nasional. Tabanelli, di sisi lain, dapat menegakkan kebijakan integritas yang lebih ketat, memastikan Italia kembali menjadi contoh dalam hal fair play.

Proses Pemilihan dan Jadwal

  • Rapat Luar Biasa FIGC dijadwalkan pada 15 Mei 2024 untuk membuka pencalonan resmi.
  • Setiap calon harus mengajukan dokumen visi-misi lengkap, termasuk rencana keuangan dan program pengembangan.
  • Pemungutan suara akan dilakukan oleh anggota federasi pada 30 Juni 2024, dengan mayoritas mutlak diperlukan untuk menang.
  • Jika tidak ada calon yang mencapai mayoritas, akan diadakan putaran kedua pada Agustus 2024.

Dengan tiga nama kuat yang menawarkan keahlian berbeda, kompetisi untuk mengisi kursi Presiden FIGC diprediksi akan menjadi salah satu proses politik olahraga paling menarik dalam dekade terakhir. Keputusan akhir akan sangat menentukan arah sepakbola Italia, baik di level domestik maupun internasional.

Terlepas dari siapa yang akhirnya terpilih, harapan terbesar tetap pada kemampuan pemimpin baru untuk mengembalikan kepercayaan publik, menegakkan integritas, dan menyiapkan generasi berikutnya untuk bersaing di panggung dunia.