Drone Laut Mirip Torpedo Ditemukan di Lombok: Analisis BRIN Ungkap Asal Usul dan Cara Kendali
Drone Laut Mirip Torpedo Ditemukan di Lombok: Analisis BRIN Ungkap Asal Usul dan Cara Kendali

Drone Laut Mirip Torpedo Ditemukan di Lombok: Analisis BRIN Ungkap Asal Usul dan Cara Kendali

Frankenstein45.Com – 19 April 2026 | Seorang nelayan menemukan sebuah benda berukuran sekitar 3,7 meter berbentuk torpedo di perairan utara Pulau Gili Trawangan, Selat Lombok, pada pekan lalu. Penemuan ini memicu kegelisahan publik dan menimbulkan spekulasi bahwa benda tersebut merupakan perangkat militer milik China yang beroperasi di wilayah perairan strategis Indonesia.

Identifikasi Awal dan Penanganan TNI AL

Setelah penemuan, TNI Angkatan Laut segera mengamankan objek dan membawanya ke pangkalan Angkatan Laut Mataram untuk dilakukan pemeriksaan menyeluruh. Juru bicara TNI AL, Laksamana Muda Tunggul, menyatakan bahwa proses identifikasi mencakup analisis asal, tujuan, serta data yang tersimpan di dalam perangkat.

Analisis Ahli Pertahanan: Sistem Tambat Transmisi Real-Time Laut Dalam

Tim analis pertahanan, termasuk ahli dari HI Sutton, mengidentifikasi objek tersebut sebagai bagian dari “Sistem Tambat Transmisi Real-Time Laut Dalam” yang dikembangkan oleh Institut Penelitian 710 milik China. Sistem ini dirancang untuk dikaitkan ke jangkar di dasar laut dan dilengkapi dengan pelampung komunikasi yang mengirimkan data secara real‑time ke pangkalan di permukaan.

Fungsi utama sensor meliputi pemantauan suhu, kedalaman, arus, serta akustik laut termasuk suara dan target potensial. Data yang dikumpulkan dapat membantu operasi kapal selam maupun kapal permukaan dalam menentukan jalur optimal serta menghindari deteksi musuh.

Analisis BRIN: Dari Mana Kendali Drone Laut?

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) membentuk tim lintas disiplin untuk meneliti lebih lanjut mengenai jaringan kendali perangkat tersebut. Menurut laporan awal tim BRIN, sinyal komunikasi yang terdeteksi berasal dari frekuensi yang umum dipakai oleh satelit komunikasi milik China, khususnya frekuensi Ku‑band yang biasa dipakai untuk transmisi data sensor bawah laut.

Tim BRIN menguji tiga skenario utama:

  • Kontrol Satelit: Data dikirim melalui uplink ke satelit geostasioner di atas Samudra Hindia, kemudian diteruskan ke pusat komando di daratan China. Analisis spektrum menunjukkan pola modulasi yang konsisten dengan sistem komunikasi milik China.
  • Kontrol Via Buoy: Pelampung di permukaan berfungsi sebagai repeater yang menghubungkan sensor ke kapal atau stasiun laut terdekat. Namun, tidak ada kapal asing yang terdeteksi berada dalam radius 20 km pada waktu penemuan.
  • Hybrid: Kombinasi kedua metode di atas, di mana data pertama dikirim ke buoy, kemudian buoy meneruskan ke satelit.

Hasil akhir menyimpulkan bahwa kontrol utama berasal dari satelit, dengan buoy berperan sebagai penguat sinyal lokal. Dengan demikian, kendali perangkat dapat dilakukan dari jarak jauh, tanpa kehadiran fisik di wilayah perairan Indonesia.

Respons Pemerintah dan Diplomatik

Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Luar Negeri, menyatakan bahwa China tidak memberikan penjelasan rinci terkait insiden ini. Juru bicara Kemenlu China menegaskan bahwa peralatan ilmiah kelautan dapat hanyut ke perairan asing karena kerusakan atau faktor lain, dan menolak adanya interpretasi yang berlebihan.

Sementara itu, Kementerian Pertahanan menegaskan bahwa setiap perangkat yang masuk wilayah kedaulatan Indonesia akan diproses sesuai prosedur hukum maritim dan keamanan nasional. Pihak berwenang juga menambahkan bahwa pemantauan intensif terhadap aktivitas bawah laut di Selat Lombok akan terus ditingkatkan.

Implikasi Keamanan Strategis

Selat Lombok merupakan jalur laut penting yang menghubungkan Samudra Hindia dengan Laut Jawa, serta menjadi rute utama bagi kapal dagang dan militer. Keberadaan jaringan sensor real‑time milik China dapat memberikan keuntungan taktis signifikan, termasuk kemampuan melacak pergerakan kapal selam Indonesia atau negara lain.

Analisis BRIN menekankan bahwa keberadaan sistem semacam ini dapat mengubah dinamika keamanan maritim di kawasan Indo‑Pasifik. Pemerintah Indonesia diperkirakan akan memperkuat kebijakan surveilans laut, termasuk penambahan sonar aktif, patroli UAV, serta kerja sama intelijen dengan negara sekutu.

Secara keseluruhan, temuan drone laut di Lombok menyoroti tantangan baru dalam menjaga kedaulatan wilayah perairan Indonesia di era teknologi sensor bawah laut yang semakin canggih. Pemerintah berkomitmen untuk melakukan investigasi mendalam serta memperkuat kerangka kerja hukum dan operasional guna mencegah potensi penyalahgunaan teknologi serupa di masa mendatang.