Frankenstein45.Com – 19 April 2026 | Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira Adhinegara, menyatakan bahwa kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi merupakan langkah strategis pemerintah untuk mendorong konsumen kelas menengah atas beralih ke kendaraan listrik (EV). Menurutnya, kebijakan ini tidak hanya bertujuan meningkatkan pendapatan negara dari sektor energi, tetapi juga mengurangi emisi karbon serta mempercepat transisi menuju mobilitas ramah lingkungan.
Bhima menambahkan bahwa peningkatan harga BBM nonsubsidi akan menimbulkan beban biaya operasional yang lebih tinggi bagi pemilik mobil pribadi, khususnya yang mengandalkan bahan bakar fosil. Dengan biaya tersebut, konsumen yang memiliki daya beli cukup akan lebih terdorong untuk mempertimbangkan alternatif kendaraan listrik yang biaya operasionalnya lebih rendah dalam jangka panjang.
- Pengurangan Emisi: EV menghasilkan nol emisi tailpipe, membantu pencapaian target penurunan emisi nasional.
- Efisiensi Energi: Kendaraan listrik memiliki konversi energi yang lebih tinggi dibandingkan mesin pembakaran internal.
- Stimulasi Industri Lokal: Permintaan EV dapat merangsang perkembangan industri baterai dan komponen elektronik dalam negeri.
- Peningkatan Pendapatan Negara: Kenaikan harga BBM nonsubsidi menambah penerimaan fiskal yang dapat dialokasikan untuk infrastruktur pengisian listrik.
Namun, Bhima juga menekankan perlunya kebijakan pendukung lainnya, seperti pembangunan jaringan stasiun pengisian listrik yang memadai, insentif pajak bagi produsen dan pembeli EV, serta program edukasi masyarakat tentang manfaat kendaraan listrik. Tanpa infrastruktur yang memadai, transisi ke EV dapat terhambat meskipun harga BBM nonsubsidi naik.
Ia menutup dengan catatan bahwa kebijakan ini harus diintegrasikan dalam rencana energi nasional yang holistik, mengingat peran penting sektor transportasi dalam konsumsi energi dan emisi gas rumah kaca.




