Frankenstein45.Com – 13 Juni 2026 | Pengamat Ekonomi Universitas Mulawarman (Unmul) Kalimantan Timur, Khairil Anwar, mengungkapkan bahwa kenaikan harga bahan bakar jenis Pertamax menandakan perubahan pola konsumsi di kalangan kelas menengah atas. Menurutnya, faktor utama meliputi peningkatan permintaan kendaraan pribadi, kebijakan pemerintah terkait subsidi, serta dinamika pasar minyak global.
Ia menilai bahwa kelas menengah atas kini lebih selektif dalam mengatur pengeluaran harian, terutama untuk bahan bakar. Kenaikan harga menuntut evaluasi kembali kebiasaan mengemudi, pemilihan rute, dan bahkan pertimbangan beralih ke kendaraan listrik atau hibrida.
Berikut beberapa poin penting yang disampaikan:
- Kenaikan harga Pertamax selama tiga bulan terakhir mencapai rata‑rata 5‑7 persen.
- Kelas menengah atas mengalokasikan sekitar 8‑10 persen dari pengeluaran bulanan untuk transportasi, lebih tinggi dibandingkan kelas menengah bawah.
- Penggunaan kendaraan pribadi meningkat 12 persen pada kuartal pertama tahun ini.
Data historis harga Pertamax dalam enam bulan terakhir dapat dilihat pada tabel berikut:
| Bulan | Harga Pertamax (per liter) |
|---|---|
| Januari 2024 | Rp9.500 |
| Februari 2024 | Rp9.750 |
| Maret 2024 | Rp10.000 |
| April 2024 | Rp10.300 |
| Mei 2024 | Rp10.550 |
| Juni 2024 | Rp10.800 |
Dengan tren tersebut, Khairil Anwar menyarankan agar konsumen kelas menengah atas mulai mempertimbangkan alternatif transportasi yang lebih efisien energi, seperti car‑sharing atau penggunaan kendaraan listrik yang kini semakin terjangkau. Ia juga menekankan pentingnya kebijakan pemerintah yang mendukung transisi energi guna meringankan beban biaya bahan bakar bagi masyarakat.
Secara keseluruhan, kenaikan harga Pertamax tidak hanya memengaruhi biaya operasional kendaraan, tetapi juga memicu perubahan gaya hidup di kalangan kelas menengah atas, yang kini lebih berhati‑hati dalam mengelola anggaran transportasi.




