Frankenstein45.Com – 01 Mei 2026 | Eks Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Sudirman Said, kembali mengkritisi arah kebijakan energi Indonesia setelah serangkaian insiden gangguan pasokan listrik dan kenaikan harga bahan bakar. Dalam sebuah wawancara, Sudirman menyoroti bahwa pola pikir jangka pendek serta konflik kepentingan di antara pemangku kepentingan menjadi penyebab utama melemahnya ketahanan energi nasional.
Selain itu, Sudirman menuding adanya konflik kepentingan antara pemerintah, perusahaan energi swasta, dan investor asing yang berpotensi menodai proses pengambilan keputusan. Ia menegaskan bahwa transparansi dan akuntabilitas harus menjadi landasan utama dalam merumuskan kebijakan energi.
- Pola pikir jangka pendek: Fokus pada pemecahan masalah cepat tanpa memperhatikan dampak jangka panjang.
- Konflik kepentingan: Keterlibatan pihak-pihak dengan agenda yang bertentangan dapat menghambat kebijakan yang konsisten.
- Dampak pada ketahanan energi: Ketergantungan pada energi fosil meningkat, sementara kapasitas energi terbarukan tetap rendah.
Sudirman juga mengingatkan pentingnya perencanaan terintegrasi antara sektor energi, transportasi, dan industri. Ia menyarankan pemerintah untuk meningkatkan investasi pada infrastruktur penyimpanan energi, memperkuat jaringan listrik, serta mempercepat regulasi yang mendukung pengembangan energi bersih.
Dengan mengadopsi pendekatan jangka panjang dan mengurangi konflik kepentingan, Sudirman yakin Indonesia dapat mencapai ketahanan energi yang lebih kuat, menurunkan biaya energi bagi konsumen, serta mendukung komitmen iklim nasional.




