Frankenstein45.Com – 08 Mei 2026 | Enam bulan setelah hubungan diplomatik antara Jepang dan Tiongkok memanas, Kementerian Luar Negeri China kembali menegaskan permintaannya agar Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, mencabut pernyataan yang dianggap menyinggung kedaulatan Tiongkok. Pernyataan tersebut awalnya dilontarkan pada awal bulan Desember lalu, ketika Takaichi menyoroti pentingnya demokrasi di wilayah Asia Timur dan secara tidak langsung menyebut Taiwan sebagai negara yang berdaulat.
Berikut rangkaian peristiwa yang memicu ketegangan:
- Desember 2023: Takaichi menyampaikan pidato di sebuah konferensi internasional, menekankan nilai demokrasi dan menyinggung status politik Taiwan.
- Desember 2023 – Januari 2024: Pemerintah Tiongkok mengeluarkan pernyataan resmi menolak komentar tersebut, menyebutnya sebagai campur tangan dalam urusan dalam negeri.
- Februari 2024: Kedutaan Besar Jepang di Beijing mengirimkan catatan diplomatik meminta klarifikasi, sementara Beijing menuntut penarikan pernyataan.
- Maret 2024: Takaichi menolak mencabut pernyataan secara penuh, namun menyatakan akan “menghormati” posisi Tiongkok dalam forum bilateral.
- April 2024: Ketegangan berlanjut dengan peningkatan latihan militer di sekitar Selat Taiwan, memperparah keprihatinan kedua belah pihak.
Dalam pernyataan terbarunya, Kementerian Luar Negeri China menegaskan bahwa pernyataan Takaichi “menyebabkan kerusakan serius pada hubungan persahabatan” dan meminta agar pemerintah Jepang mengambil langkah konkret untuk menarik kembali komentar tersebut. Pihak Beijing menambahkan bahwa kegagalan penarikan pernyataan dapat memicu konsekuensi diplomatik yang lebih luas, termasuk peninjauan kembali kerja sama ekonomi dan keamanan.
Sementara itu, pemerintah Jepang belum memberikan jawaban resmi yang mengikat. Menteri Luar Negeri Jepang, Yoko Kamikawa, menyatakan bahwa Jepang menghormati “pendirian kedaulatan masing‑masing negara” dan akan terus berupaya menyelesaikan isu ini melalui dialog konstruktif.
Para pengamat menilai bahwa ketegangan ini mencerminkan dinamika geopolitik yang semakin kompleks di kawasan Indo‑Pasifik, khususnya terkait isu Taiwan. Mereka memperkirakan bahwa kedua negara akan terus berusaha menyeimbangkan kepentingan nasional masing‑masing sambil menghindari eskalasi yang dapat merugikan stabilitas regional.




