Frankenstein45.Com – 08 Mei 2026 | Gunung Dukuni, salah satu gunung berapi paling aktif di Indonesia, kembali mengamuk pada Jumat, 8 Mei 2026, pukul 07.41 WIT. Letusan kali ini menghasilkan kolom abu vulkanik yang mencapai ketinggian sekitar 10 kilometer (10 000 meter) dari bibir kawah, menebar awan abu putih‑kelabu‑hitam ke arah utara dan memicu kepanikan di wilayah Halmahera Utara, Maluku Utara.
Kronologi Erupsi
Pengamat gunung berapi, Bambang Sugiono, Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Dukuni, melaporkan bahwa seiring gemuruh suara letusan, material piroklastik disemburkan dengan kecepatan tinggi. Pada saat yang sama, seismogram menunjukkan amplitudo maksimum 34 mm dengan durasi hampir 968 detik, menandakan intensitas erupsi yang signifikan. Kolom abu teramati menembus hingga 11 087 meter di atas permukaan laut, menjadikannya salah satu letusan tertinggi dalam sejarah rekamannya.
Dampak pada Pendaki dan Korban
Letusan tersebut terjadi di zona pendakian populer yang mengelilingi Kawah Malupang Warirang. Sebanyak 20 pendaki yang sedang menapaki jalur tersebut tiba‑tiba terperangkap oleh hujan abu dan aliran material panas. Dari jumlah itu, sembilan orang merupakan warga negara Singapura, sementara sisanya berasal dari Indonesia dan negara lain. Tim SAR gabungan yang dipimpin oleh Kepala Kantor SAR Ternate, Iwan Ramdani, berhasil menemukan sinyal darurat (SOS) melalui perangkat Garmin pada koordinat 1°42’13.7″N 127°52’50.2″E.
Selama operasi penyelamatan, dua warga negara Singapura dilaporkan meninggal dunia akibat paparan langsung abu vulkanik yang tebal dan luka‑luka serius pada beberapa pendaki lainnya. Tim SAR terus berusaha mengevakuasi korban yang masih terperangkap, namun kondisi cuaca yang berubah-ubah serta visibilitas rendah akibat abu membuat proses tersebut sangat menantang.
Upaya Penanggulangan dan Respons Pemerintah
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) langsung mengeluarkan peringatan status Level II (Waspada) dan menegaskan bahwa wilayah dalam radius 4 kilometer dari kawah harus dijauhkan dari aktivitas manusia. Pemerintah Provinsi Maluku Utara bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mengerahkan tim medis, logistik, dan peralatan perlindungan pernapasan untuk membantu evakuasi dan perawatan korban.
Warga di sekitar gunung diimbau untuk selalu menggunakan masker penutup hidung dan mulut serta menutup jendela rumah guna mengurangi inhalasi partikel abu yang berbahaya bagi sistem pernapasan. Selain itu, otoritas meminta masyarakat agar tidak melakukan aktivitas outdoor, terutama pendakian, hingga kondisi gunung kembali stabil.
Imbauan kepada Masyarakat dan Wisatawan
Berbagai lembaga kesehatan menekankan pentingnya memantau gejala gangguan pernapasan, iritasi mata, serta potensi infeksi kulit setelah terpapar abu vulkanik. Puskesmas setempat menyediakan layanan pemeriksaan gratis bagi warga yang mengalami gejala tersebut.
Pengamat lingkungan menambahkan bahwa hujan abu yang terjadi setelah erupsi dapat mencemari sumber air bersih, sehingga warga disarankan untuk menggunakan air kemasan atau melakukan penyaringan khusus sebelum konsumsi.
Dengan intensitas erupsi yang masih berlanjut pada saat laporan ini dibuat, pihak berwenang terus memantau aktivitas seismik dan kualitas udara secara real‑time. Diharapkan informasi terbaru dapat disebarkan secara cepat melalui media lokal dan platform digital untuk menghindari kepanikan yang tidak perlu.
Erupsi Gunung Dukuni kali ini menegaskan kembali pentingnya kesiapsiagaan bencana di wilayah rawan vulkanik Indonesia. Kolaborasi antara lembaga pemerintah, tim SAR, serta partisipasi aktif masyarakat menjadi kunci utama dalam menghadapi situasi darurat yang dapat berubah dengan cepat.




