Frankenstein45.Com – 22 Mei 2026 | Eberechi Eze mengakhiri musim yang luar biasa dengan serangkaian momen yang mengukir sejarah, mulai dari menjadi juara Premier League bersama Arsenal, kembali ke kandang Crystal Palace pada laga penutup, hingga dilaporkan menjadi duta merek jam tangan G‑Shock.
Momen Kemenangan Bersama Arsenal
Setelah pindah ke Arsenal dengan nilai transfer sekitar £67,5 juta pada musim panas lalu, Eze langsung terlibat dalam gelombang kebangkitan sang raksasa London Utara. Pemain berusia 27 tahun mencatat lima gol krusial dalam hanya dua pertemuan melawan Crystal Palace, termasuk gol penentu kemenangan di Emirates Stadium pada bulan Oktober. Penampilannya melawan Newcastle pada April juga berperan penting dalam menjaga momentum tim.
Selain kontribusi gol, Eze dikenal karena sikap santainya di tengah tekanan. Pada konferensi pers bulan April, ia menjawab pertanyaan tentang komentar fans rival dengan pernyataan singkat, “I don’t care,” yang kemudian menjadi viral. Sikap tersebut mencerminkan mentalitas tim yang bebas beban dan siap bersaing hingga akhir.
Kepulangan ke Crystal Palace di Hari Penutup
Hari terakhir musim Premier League menandai kembali Eze ke Selhurst Park, kini sebagai pemain Arsenal yang kembali menantang bekas klubnya. Meskipun ia tidak lagi mengenakan seragam Crystal Palace, sambutan hangat dari suporter tidak dapat dipungkiri. Ia menjadi pencetak gol bersejarah dalam final FA Cup melawan Manchester City tahun sebelumnya, dan kini kembali untuk menyaksikan tim lamanya berjuang melawan Arsenal.
Pelatih Crystal Palace, Oliver Glasner, memberikan pujian khusus kepada Eze. Dalam sebuah konferensi pers, Glasner menyebut keputusan Eze memilih Arsenal daripada “klub lain” sebagai langkah tepat, sekaligus menyelipkan sindiran halus kepada Tottenham Hotspur yang sempat hampir mendapatkan tanda tangannya. “Saya rasa dia membuat keputusan yang benar dengan bergabung ke Arsenal dan bukan ke klub lain,” ujar Glasner.
Oliver Glasner dan Sindiran kepada Spurs
Glasner tidak hanya memuji Eze, tetapi juga secara tidak langsung mengkritik Tottenham yang kehilangan kesempatan. Dalam dua wawancara terpisah, ia menegaskan bahwa keputusan Eze memperkuat Arsenal dan menimbulkan pertanyaan mengapa Spurs tidak berhasil mengamankan pemain muda berbakat itu. Sindiran tersebut menambah warna persaingan antara klub-klub Premier League menjelang penutupan musim.
Eze Menjadi Duta G‑Shock
Pada minggu yang sama, Eze diumumkan sebagai ambassador baru untuk merek jam tangan Casio G‑Shock. Ia muncul dalam foto perayaan di luar Emirates Stadium mengenakan model DW‑5600RL‑1ER, sebuah jam klasik yang dikenal akan ketangguhannya. G‑Shock, yang awalnya dirancang untuk menahan benturan keras, kini menjadi simbol ketahanan mental Eze yang harus melewati berbagai rintangan sejak usia muda, termasuk ditolak oleh Arsenal pada usia 13 tahun dan berkelana melalui akademi Fulham, Reading, serta Millwall sebelum kembali ke klub masa kecilnya.
Model yang dipilih memiliki fungsi kronograf dan kalender abadi dengan harga sekitar £100, jauh lebih terjangkau dibandingkan jam mekanik mewah. Pilihan ini mencerminkan kepribadian Eze yang tetap sederhana meski kini berada di puncak karier.
Implikasi Musim Depan
Keberhasilan Arsenal meraih gelar pertama dalam 22 tahun menandai era baru bagi klub dan pemainnya. Dengan Eze sebagai salah satu pilar gelandang serang, ekspektasi tinggi menanti musim berikutnya, termasuk tantangan di Liga Champions. Sementara itu, Crystal Palace berupaya mengoptimalkan posisi mereka di kompetisi domestik dan Eropa, dengan Glasner menekankan pentingnya konsistensi dan kesehatan pemain, seperti pembaruan cedera Chris Richards sebelum final Conference League.
Secara keseluruhan, perjalanan Eze tahun ini menegaskan kemampuan adaptasi dan determinasi seorang pemain muda yang kini menjadi bagian integral dari kisah sukses Arsenal, sekaligus menjadi sosok inspiratif bagi generasi mendatang.




