Frankenstein45.Com – 06 Mei 2026 | Gatot Nurmantyo, mantan Panglima TNI yang menjabat selama 2015‑2017, baru-baru ini membuka tabir alasan di balik pemecatannya yang sering disebut sebagai “ditendang”. Dalam sebuah wawancara, ia menegaskan bahwa keputusan tersebut berkaitan dengan penolakan berulang atas titipan Presiden Joko Widodo untuk mengangkatnya menjadi jenderal pada tahun 2017.
Berikut rangkaian peristiwa yang dijelaskan Gatot:
- Usulan Kenaikan Pangkat 2017 – Pada awal 2017, Presiden Jokowi mengusulkan agar Gatot Nurmantyo dipromosikan menjadi jenderal empat bintang, posisi tertinggi di TNI. Usulan tersebut disampaikan melalui “titipan” resmi kepada menko Polhukam.
- Penolakan Gatot – Gatot menolak usulan tersebut dengan alasan bahwa proses promosi harus mengikuti prosedur birokrasi militer yang ketat, termasuk penilaian kinerja, masa jabatan, dan persetujuan dewan perwira. Ia khawatir promosi yang dipercepat dapat menimbulkan persepsi politisasi TNI.
- Tekanan Politik – Meski menolak, Gatot tetap menerima tekanan dari lingkup eksekutif yang mengharapkan kepatuhan. Ia menyebut bahwa penolakan berulang kali menimbulkan ketegangan hubungan antara kepemimpinan TNI dan istana.
- Keputusan Penggantian – Pada akhir 2017, setelah serangkaian pertemuan internal, Presiden memutuskan untuk menggantikan Gatot dengan Letnan Jenderal Hadi Tjahjanto. Keputusan itu diumumkan secara resmi pada bulan Desember 2017.
Gatot menambahkan bahwa penolakannya bukan berarti menentang kepemimpinan presiden, melainkan menjaga integritas institusi militer. Ia menekankan pentingnya pemisahan peran militer dan politik agar TNI tetap profesional dan netral.
Reaksi publik beragam. Sebagian mengapresiasi sikap Gatot yang dianggap berani menolak intervensi politik, sementara yang lain menilai bahwa penolakan tersebut mengganggu stabilitas hubungan sipil‑militer. Para pengamat menilai peristiwa ini mencerminkan tantangan yang terus dihadapi Indonesia dalam menjaga keseimbangan antara otoritas sipil dan otonomi militer.




