Frankenstein45.Com – 04 April 2026 | Gennaro Gattuso, mantan gelandang legendaris Inter Milan, kembali menjadi sorotan publik setelah mengumumkan pengunduran dirinya sebagai pelatih tim nasional Italia. Keputusan itu diambil pasca kegagalan Azzurri menembus babak final Piala Dunia FIFA 2026 setelah tersingkir lewat adu penalti melawan Bosnia dan Herzegovina pada 31 Maret 2026 di stadion Bilino‑Polje, Zenica.
Meski hasilnya pahit, Gattuso menegaskan bahwa ia tidak gentar dengan atmosfer keras yang tercipta di markas Bosnia. Dalam pernyataannya kepada media, ia menyebut tekanan suara suporter Bosnia sebagai “ujian mental yang memperkuat karakter tim”. Gattuso menambahkan, “Kami masuk ke sana sadar akan kerumunan yang mendukung tim tuan rumah, tetapi semangat juang Azzurri tetap tak tergoyahkan.”
Pertandingan tersebut berakhir imbang 1‑1 setelah perpanjangan waktu, namun Italia harus bermain dengan sepuluh pemain sejak menit ke‑73 setelah Alessandro Bastoni menerima kartu merah. Kejadian ini menjadi faktor penting yang memengaruhi hasil akhir, karena tim Italia terpaksa menahan serangan lawan dengan satu pemain kurang selama hampir setengah pertandingan.
Setelah 120 menit, duel berlanjut ke adu tendangan penalti. Italia gagal mengamankan tiga tembakan, sementara Bosnia mengonversi empat, sehingga Italia resmi tersingkir. Kegagalan ini menandai ketiga kalinya beruntun Italia tidak lolos ke putaran final Piala Dunia, setelah pula absen pada edisi 2018 dan 2022.
Statistik Gatturo selama masa jabatannya menunjukkan catatan yang cukup kompetitif: enam kemenangan, satu hasil imbang, dan satu kekalahan dalam delapan laga. Rekor ini tercermin dalam tabel berikut:
| Pertandingan | Hasil |
|---|---|
| 1 | Menang |
| 2 | Menang |
| 3 | Menang |
| 4 | Menang |
| 5 | Menang |
| 6 | Menang |
| 7 | Imbang |
| 8 | Kalah |
Meski hasil akhir tidak memuaskan, Gattuso menerima pujian dari presiden FIGC, Gabriele Gravina, yang menilai pelatih asal Marseille itu berhasil “menyuntikkan kembali semangat kebanggaan pada seragam biru”. Gravina menambahkan, “Kontribusinya selama beberapa bulan terakhir telah menumbuhkan rasa kebanggaan nasional yang kuat, meski kami harus melangkah ke fase evaluasi teknis selanjutnya.”
Sebagai tambahan, legenda Italia Fabio Capello memberikan saran kepada Gattuso untuk tidak terburu‑buru mengundurkan diri. Capello menyarankan agar Gattuso menunggu dua pertandingan berikutnya sebelum mengambil keputusan final, mengingat konteks sulit yang dihadapi Gattuso sejak mengambil alih tim pada Juni 2025, ketika kualifikasi sudah berjalan di bawah Luciano Spalletti.
Keputusan Gattuso juga sejalan dengan langkah resign sebelumnya yang diambil oleh Presiden FIGC, Gabriele Gravina, dan kepala delegasi tim nasional, Gianluigi Buffon. Kedua figur tersebut mengundurkan diri dengan alasan serupa, yakni kegagalan Italia mencapai target Piala Dunia.
Atmosfer di Zenica pada malam itu menggambarkan betapa intensnya dukungan lokal. Suara riuh suporter Bosnia, nyanyian, dan lampu sorot yang menyorot lapangan menciptakan lingkungan yang menantang bagi tim tamu. Gattuso mengakui bahwa “setiap desisan penonton menambah beban, tetapi juga memicu adrenalin kami untuk memberi yang terbaik.”
Kegagalan Italia menimbulkan pertanyaan besar mengenai arah strategi tim nasional ke depan. FIGC diperkirakan akan segera menggelar proses evaluasi teknis yang melibatkan analis taktik, scout internasional, dan perwakilan pemain muda. Harapan besar kini beralih kepada generasi baru, sementara pengalaman Gattuso tetap menjadi pelajaran penting dalam mengelola tekanan besar di level internasional.
Dengan pengunduran diri resmi yang diumumkan pada Sabtu, Gattuso menutup babak singkat namun penuh dinamika di pucuk kepelatihan Azzurri. “Terima kasih kepada para penggemar Italia yang selalu setia. Azzurri selalu ada di hati saya,” tuturnya dalam pernyataan akhir. Ke depan, dunia sepakbola Italia menantikan siapa yang akan menggantikan posisi pelatih dan bagaimana tim dapat bangkit kembali dari kegagalan tiga kali berturut‑turut tidak lolos ke Piala Dunia.




