Gencatan Senjata Paskah Ortodoks Runtuh: Kedua Belah Saling Tuduh Pelanggaran Drone
Gencatan Senjata Paskah Ortodoks Runtuh: Kedua Belah Saling Tuduh Pelanggaran Drone

Gencatan Senjata Paskah Ortodoks Runtuh: Kedua Belah Saling Tuduh Pelanggaran Drone

Frankenstein45.Com – 12 April 2026 | Sabtu sore, tepatnya pukul 16.00 waktu setempat, Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan gencatan senjata selama 32 jam untuk memperingati Paskah Ortodoks. Keputusan itu diharapkan menjadi jeda kemanusiaan di tengah konflik yang telah berlangsung lebih dari lima tahun antara Ukraina dan Rusia. Namun, harapan tersebut cepat surut ketika serangkaian serangan drone dilaporkan terjadi di wilayah timur Ukraina.

Menurut pernyataan resmi militer Ukraina, unit 148 Brigade Artileri Terpisah melaporkan bahwa meski tembakan artileri berkurang di perbatasan Donetsk, Dnipropetrovsk, dan Zaporizhzhia, pesawat tak berawak Rusia terus menyerang posisi mereka. “Gencatan senjata tidak dihormati oleh pihak Rusia,” kata Serhii Kolesnychenko, petugas komunikasi brigade tersebut. Ia menambahkan bahwa respons Ukraina tetap berupa “diam terhadap diam dan tembak terhadap tembak”.

Serangan paling mematikan terjadi di kota pelabuhan Odesa, di mana drone Rusia menabrak area residensial pada dini hari Sabtu. Dua orang tewas dan empat lainnya terluka, termasuk seorang anak kecil. Bangunan apartemen, rumah pribadi, bahkan sebuah taman kanak-kanak mengalami kerusakan signifikan. Foto-foto visual menunjukkan rumah terbakar dan puing-puing yang berserakan di jalan utama kota.

Di sisi lain, Rusia menuduh Ukraina melanggar gencatan senjata. Gubernur Kursk, Alexander Khinshtein, mengklaim bahwa sebuah drone Ukraina menabrak sebuah pom bensin di kota Lgov, menewaskan tiga orang, termasuk seorang anak. Di wilayah Belgorod yang berbatasan, gubernur Vyacheslav Gladkov melaporkan dua warga terluka akibat serangan drone Ukraina di kota Shebekino dan Grayvoron. Ia juga menambahkan bahwa tembakan artileri Ukraina menimbulkan kerusakan pada rumah penduduk setempat.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menegaskan komitmennya untuk mematuhi gencatan senjata, menyebut Paskah sebagai “waktu hening dan aman” serta peluang untuk membuka jalan menuju perdamaian yang lebih nyata. Namun, ia memperingatkan bahwa Ukraina siap memberikan respons militer yang tegas terhadap setiap pelanggaran. “Kami memahami dengan jelas siapa lawan kami. Ukraina akan tetap mematuhi gencatan dan menanggapi secara setimpal,” tulisnya dalam sebuah unggahan daring.

Data resmi militer Ukraina mencatat total 469 pelanggaran gencatan senjata sejak dimulainya jeda pada pukul 16.00 Sabtu. Pelanggaran tersebut meliputi serangan drone, tembakan artileri, dan penembakan jarak dekat. Sementara itu, pihak Rusia belum mengeluarkan angka resmi mengenai pelanggaran dari pihak Ukraina, meskipun telah mengumumkan bahwa mereka tetap beroperasi sesuai arahan Kremlin.

Para analis menilai bahwa gencatan senjata Paskah Ortodoks lebih bersifat simbolis dibandingkan operasional. “Kebijakan ini tampaknya dirancang untuk menunjukkan sisi kemanusiaan, namun tidak mengubah dinamika medan perang yang masih sangat tegang,” ujar seorang pakar keamanan regional. Ia menambahkan bahwa kedua belah pihak masih berpegang pada tujuan politik masing-masing, sehingga gencatan senjata mudah terlewati oleh kepentingan militer.

Selama periode 32 jam tersebut, wilayah perbatasan tetap menjadi zona panas dengan laporan serangan balasan yang terus bergulir. Penduduk sipil di daerah yang terdampak melaporkan rasa ketidakpastian yang tinggi, terutama ketika sirene peringatan terus berbunyi di tengah upaya mencari perlindungan.

Secara keseluruhan, meski gencatan senjata Paskah Ortodoks diharapkan menjadi momentum untuk menurunkan intensitas pertempuran, realitas di lapangan menunjukkan sebaliknya. Kedua pihak saling menuduh pelanggaran, dengan serangan drone menjadi fokus utama. Tanpa adanya mekanisme verifikasi independen yang kuat, gencatan ini kemungkinan akan tetap rapuh, mengingat ketegangan yang masih mendominasi hubungan Ukraina‑Rusia.